Bintang Arsenal dan Tim Nasional Inggris, Bukayo Saka, secara mengejutkan terdiam dan langsung meninggalkan sesi wawancara bersama BBC usai laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026.
Pemain sayap berusia 24 tahun itu tampak tak nyaman dengan pertanyaan penutup dari jurnalis setelah Inggris sukses membungkam Prancis 6-4 di Miami.
Pertanyaan yang Mengingatkan Luka Semifinal
Saka tampil gemilang dengan mencetak hat-trick dalam laga yang diwarnai hujan 10 gol tersebut.
Kontribusinya sangat krusial dalam membawa skuad asuhan Thomas Tuchel unggul telak 4-0 di babak pertama, sebelum Kylian Mbappe membalas lewat dwigol dan Jude Bellingham menyegel kemenangan di masa injury time.
Namun, bayang-bayang kekecewaan akibat kekalahan dari Argentina di babak semifinal tampaknya masih membekas. Insiden kecanggungan ini dipicu ketika koresponden Inggris untuk BBC, Kelly Sommers, mencoba menghibur Saka terkait kegagalan mencapai partai puncak.
“Bermain bagus hari ini, saya tahu Anda tidak menginginkan perunggu, tapi setidaknya ini adalah medali,” ujar Sommers.
Mendengar pernyataan tersebut, Saka sontak menggembungkan pipinya, melepaskan senyum kecut, bertukar sapaan basa-basi singkat, lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhi mikrofon.
Kebugaran dan Rasa Sakit The Three Lions
Sebelum turnamen dimulai, kondisi fisik Saka sempat menjadi kekhawatiran karena ia dipaksa bermain menahan cedera saat mengantarkan Arsenal menjuarai Liga Premier Inggris. Kondisi ini pula yang membuat Saka absen dan tidak diturunkan saat Inggris menelan kekalahan mengejutkan dari sang juara bertahan, Argentina, pada laga semifinal hari Rabu sebelumnya.
Meski gagal membawa pulang trofi emas, pahlawan peraih medali perunggu itu menegaskan bahwa dirinya kini dalam kondisi prima. Berikut adalah beberapa pernyataan krusial Saka sebelum meninggalkan sesi wawancara:
“Tentu saja saya ingin mengambil peran lebih besar, namun sudah terlambat untuk itu.”
“Saya mencoba berbicara melalui performa di atas lapangan, tetapi sekarang saatnya untuk terus maju.”
“Ya, saya bugar, saya bugar.”
Merespons Kritik untuk Thomas Tuchel
Laga melawan Prancis ini juga diwarnai tekanan berat yang menimpa manajer Inggris, Thomas Tuchel. Nama pelatih asal Jerman itu sempat dicemooh (booed) oleh suporter di dalam stadion saat wajahnya muncul di layar sebelum kick-off, menyusul besarnya gelombang tuntutan pemecatan usai Inggris dihempaskan Argentina.
Saka menolak untuk terseret lebih jauh dalam pusaran kritik terhadap sang manajer, dan memilih meresponsnya dengan mentalitas positif.
“Saya pikir itu hanya bagian dari permainan. Ketika Anda menang, akan ada suara bising, dan ketika Anda kalah, ini tentang bagaimana Anda bereaksi dan menjadikannya sebagai bahan bakar; kami mengakhirinya dengan kuat,” tegas Saka.
Ia juga menambahkan bahwa seluruh tim telah membangun momentum yang baik secara bertahap dan meraih beberapa hasil menakjubkan sepanjang turnamen. “Pada akhirnya kami gagal saat melawan Argentina. Itu sangat menyakitkan bagi kami semua dan saya yakin para penggemar di rumah juga merasakannya, tetapi kami harus menegakkan kepala dan fokus pada turnamen berikutnya,” pungkasnya.













