Kompak Menguat, IHSG Lagi ‘Akur’ dengan Nilai Tukar Rupiah

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 21 Agustus 2026 – 18:38 WIB

Ilustrasi lantai bursa di Gedung BEI, Jakarta. (Foto: Antara)

Ilustrasi lantai bursa di Gedung BEI, Jakarta. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Jarang-jarang terjadi, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) mengalami penguatan berbarengan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lazimnya, nilai tukar dan IHSG bergerak berlawanan.

Saat penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), IHSG ditutup menguat 24,10 poin atau naik 0,37 persen dari perdagangan sebelumnya, menjadi 6.525.

Dikutip dari RTI Infokom, investor pasar modal melakukan transaksi sebesar Rp17,42 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 58,08 miliar saham.

Pada penutupan kali ini, sebanyak 319 emiten menguat, 294 emiten terkoreksi, dan sebanyak 178 stagnan. Dan, sebanyak 8 dari 11 sektor indeks menguat, dipimpin infrastruktur yang mengalami kenaikan 0,61 persen.

Sementara 3 sektor lainnya mengalami pelemahan, dipimpin sektor kesehatan yang mengalami minus 0,73 persen. Beralih ke asing, mayoritas bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak di zona hijau.

Tercatat, indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 1,21 persen, indeks Straits Times di Singapura plus 0,33 persen, dan indeks Shanghai Composite di China naik 0,04 persen. Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,30 persen.

Senada, bursa saham Eropa terpantau dominan bergerak menguat. Tercatat indeks DAX di Jerman menguat 0,34 persen dan indeks FTSE 100 di Inggris plus 0,23 persen.

Di sisi lain, bursa Amerika terpantau kompak melemah. Tercatat indeks S&P 500 melemah 0,87 persen, indeks NASDAQ Composite minus 1 persen, dan indeks Dow Jones turun 1,32 persen.

Rupiah ‘Merapat’ ke Rp17.500/US$

Di sisi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$), ada kabar baik. Di mana, mata uang Garuda mengalami penguatan 54 poin atau 0,30 persen, menjadi Rp17.695/US$.

Berdasarkan data Bloomberg, penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan penguatan di pasar surat utang (Surat Berharga Negara/SBN). Di mana, imbal hasil (yield) surat utang turun secara luas, hampir di semua tenor.

Nilai tukar rupiah kian perkasa hingga menembus di bawah Rp17.700/US$. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Pada pukul 15.05 WIB, yield SBN tenor 1 tahun turun 6,7 basis poin (bps) menjadi 6,69 persen. Level terendah sejak Juni 2026.

Sementara untuk SBN tenor 2 tahun, turun tajam 12,2 bps menjadi 6,64 persen. Pun demikian dengan SBN tenor 10 tahun, yield-nya  turun 6,9 bps menjadi 6,95 persen.

Posisi ini merupakan yang terendah dalam dua bulan terakhir. Pergerakan yield di pasar surat utang hari ini mengindikasikan premi risiko Indonesia mulai terpangkas.

Kondisi ini didukung keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen, serta berlanjutnya stabilitas rupiah.

Langkah ini sejalan dengan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang kembali turun ke level 84,99, atau merupakan posisi terendah sejak Mei 2026.

Asal tahu saja, CDS menjadi salah satu barometer persepsi investor global terhadap risiko gagal bayar (default risk) suatu negara.

Penurunan CDS pada bulan Agustus dari level tertingginya pada 2026, sebesar 105,9 pada Maret lalu, menandakan investor mulai memangkas premi risiko dari aset-aset Indonesia. Artinya, mereka kembali tertarik untuk belanja.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang