Isu soal ‘bakar uang’ nampaknya mulai menjadi sejarah bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Emiten teknologi terbesar di Indonesia ini baru saja merilis laporan keuangan tahun buku 2025 dengan hasil yang cukup membuat pasar modal semringah. Tak tanggung-tanggung, GOTO sukses memangkas rugi bersihnya hingga 73 persen sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Rabu (11/3/2026), kerugian bersih perseroan kini ‘hanya’ menyisakan Rp1,5 triliun. Angka ini terjun bebas dari posisi rugi tahun 2024 yang mencapai Rp5,46 triliun. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi efisiensi operasional dan optimalisasi lini bisnis yang dijalankan manajemen mulai membuahkan hasil manis.
Pendapatan Melompat, EBITDA Positif
Kunci dari menyusutnya kerugian ini adalah kemampuan GOTO dalam mengerek pendapatan bersih secara signifikan. Tahun 2025, GOTO mengantongi pendapatan Rp18,32 triliun, alias naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp15,89 triliun.
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menegaskan bahwa momentum pertumbuhan ini adalah hasil dari kerja keras seluruh lini bisnis.
“Kami mencatatkan kinerja kuat, terutama di kuartal keempat. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang kami tetapkan,” ujar Hans dengan nada optimistis dalam keterangan resminya, Rabu (11/3/2026).
Gairah transaksi pun terlihat dari Nilai Transaksi Bruto inti (GTV Core) yang meroket 49 persen secara tahunan menjadi Rp400 triliun. Bahkan, pada penutup tahun (kuartal IV), lonjakan GTV inti menembus 57 persen. Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, tapi cerminan dari 66 juta pengguna aktif (ATU) yang makin loyal menggunakan ekosistem GOTO.
Fintech: Sang ‘Primadona’ Pendapatan
Jika ditelisik lebih dalam, lini teknologi finansial (fintech) menjadi bintang utama dalam rapor GOTO kali ini. Bisnis pinjaman (lending) fintech mencatatkan lonjakan pendapatan bersih hingga 95 persen, dari Rp1,94 triliun menjadi Rp3,78 triliun. Sektor ini terbukti menjadi mesin uang baru yang sangat menjanjikan bagi masa depan perusahaan.
Di sisi lain, segmen On-Demand Service (ODS) seperti Gojek juga tak mau kalah. Sepanjang 2025, sektor ini mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp1,4 triliun, melonjak 105 persen dibandingkan tahun 2024. Bisnis pengantaran (delivery) juga tumbuh stabil dengan pendapatan Rp9,46 triliun dalam setahun penuh.
Arus Kas Mulai ‘Bernapas’
Satu hal yang paling melegakan bagi investor adalah kondisi arus kas. GOTO kini membukukan arus kas bebas (adjusted free cash flow) yang positif sebesar Rp966 miliar untuk tahun 2025. Ini adalah bukti sahih bahwa perusahaan kini memiliki ‘napas’ yang lebih panjang dan tidak lagi sekadar bergantung pada suntikan modal luar.
Melihat performa moncer ini, Hans Patuwo pun berani mematok target lebih tinggi di 2026, dengan proyeksi EBITDA yang disesuaikan berada di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun.
Secara garis besar, 2025 menjadi tahun titik balik bagi GOTO. Dari perusahaan yang tadinya penuh keraguan soal profitabilitas, kini bertransformasi menjadi entitas bisnis yang tegap menatap keuntungan. Jika momentum ini terjaga, 2026 bisa jadi adalah tahun di mana GOTO benar-benar ‘lepas landas’ dari zona merah.










