Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dinilai membuka jalan bagi ambisi PM Benjamin Netanyahu untuk mewujudkan ‘Israel Raya’. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kawasan Timur Tengah kini berada di titik nadir. Guncangan geopolitik yang terjadi bukan lagi sekadar riak kecil, melainkan gelombang pasang yang mengancam kedaulatan banyak negara. Pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026), sebuah “kotak pandora” konflik terbuka lebar.
Kini, publik internasional tidak hanya meratapi atau merayakan jatuhnya sang “Spiritual Leader” Teheran. Pertanyaan besar yang menyeruak ke permukaan jauh lebih mengerikan: Benarkah kematian Khamenei hanyalah pion pertama yang dijatuhkan Benjamin Netanyahu demi mewujudkan obsesi lamanya, yakni ‘Israel Raya’?
Visi Ekspansionis: Bukan Sekadar Isapan Jempol
Bagi mereka yang mengamati dinamika Tel Aviv, ambisi ekspansionis Netanyahu bukanlah rahasia baru. Di berbagai panggung diplomasi internasional, sang Perdana Menteri Israel itu tak segan memamerkan peta “Tanah yang Dijanjikan”. Sebuah dokumen provokatif yang secara eksplisit menghapus garis perbatasan negara-negara tetangga.
Dalam peta tersebut, wilayah Palestina hanyalah awal. Ambisi ini merambah luas, mencaplok kedaulatan Yordania, Lebanon, hingga merobek sebagian wilayah Suriah, Irak, Turki, Mesir, bahkan Arab Saudi. Ini bukan sekadar retorika politik domestik untuk meraup suara sayap kanan, melainkan sebuah desain besar yang kini tampak memiliki momentum untuk dieksekusi.
Akar Sejarah dan Agresi Tanpa Henti
Narasi ‘Israel Raya’ atau Eretz Yisrael telah berakar kuat sejak berakhirnya Perang Enam Hari pada 1967. Sejarah mencatat, Israel secara konsisten menolak mundur dari wilayah pendudukan, mulai dari Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, hingga Lebanon Selatan.
Langkah berani Netanyahu kian terlihat jelas pada Maret 2023. Saat itu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, memicu kemarahan diplomatik luar biasa ketika berpidato di Paris. Di belakangnya, terpampang peta ‘Israel Raya’ yang secara berani memasukkan seluruh wilayah Yordania ke dalam administrasi Tel Aviv.
Kini, dengan kondisi Gaza yang nyaris luluh lantak dan berada di bawah kendali penuh militer Israel, jalan menuju perluasan garis perbatasan itu terasa kian lapang. Kematian Khamenei seolah menjadi katalisator bagi Netanyahu untuk menyusun ulang tata surya politik di kawasan padang pasir tersebut.
Menanti Sikap Dunia
Dunia kini berdiri di persimpangan jalan yang gelap. Apakah komunitas internasional, terutama Dewan Keamanan PBB, memiliki taji untuk mengerem laju agresivitas Tel Aviv? Ataukah mereka hanya akan menjadi penonton saat peta Timur Tengah digambar ulang dengan tinta darah?
Kematian Khamenei mungkin mengakhiri sebuah era di Teheran, namun bagi Netanyahu, ini bisa jadi adalah “fajar baru” bagi proyek Zionisme yang lebih luas. Jika agresi ini tak terbendung, kedaulatan negara-negara Arab kini berada di ujung tanduk, menunggu giliran untuk menjadi bagian dari sejarah yang dihapuskan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










