Perusahaan minyak Saudi Aramco. (Foto: Reuters/Ali Jarekji)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman menyebut keputusan Saudi Aramco memangkas pasokan minyak mentah ke pembeli Asia mulai April 2026, tidak ada masalah.
Karena, pemerintah Indonesia telah mengupayakan pengadaan minyak mentah (crude oil) dari negara yang tidak melalui Selat Hormuz yang terdampak perang Iran dikeroyok zionis Israel dan Amerika Serikat (AS). “Misalnya kalau dari ASEAN, kita upayakan dari Malaysia dan Brunei Darussalam,” ujar Laode, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Selain itu, kata dia, pemerintah mengupayakan pengadaan dari wilayah Afrika dan Amerika. “Namun, langkah ini tidak serta-merta diambil karena pemangkasan pasokan minyak oleh Saudi Aramco,” imbuhnya.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025, berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Sebut saja Nigeria, ekspor minyak ke Indonesia sebanyak 34,07 juta barel. Atau setara 25 persen dari total impor minyak Indonesia. Sedangkan Angola mencapai 28,5 juta barel atau 21 persen. Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19 persen; Brasil 9 persen, Australia 8 persen; serta negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Asal tahu saja, Saudi Aramco selaku eksportir minyak terbesar di dunia, memangkas pasokan minyak mentah ke pembeli Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April. Kebijakan ini merupakan dampak perang Iran yang belakangan mengganggu distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz. Seperti dilaporkan Reuters, beberapa waktu lalu.
Selanjutnya, Saudi Aramco hanya memasok minyak mentah Arab Light yang diekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah, ke pelanggan jangka panjang pada April. Sehingga pasokan ke kilang-kilang di Asia, bakal sangat terbatas. Pihak Saudi Aramco pun tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentarnya.
Hingga Maret 2026, Arab Saudi telah mengekspor 4,355 juta barel minyak mentah per hari. Menurut data dari perusahaan analitik Kpler, angka itu terun bebas dari 7,108 juta barel per hari pada Februari 2026.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










