Percaya Harga Minyak Dunia Bakal Turun: Purbaya Ogah Ubah APBN 2026, Apalagi Naikkan BBM

Vonita Medium.jpeg

Selasa, 10 Maret 2026 – 19:32 WIB

Percaya Harga Minyak Dunia Bakal Turun, Purbaya Ogah Ubah APBN 2026, Apalagi Naikkan BBM

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan belum akan mengubah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, meski harga minyak dunia dan kurs rupiah sudah jauh di atas asumsi makroekonomi.

Kata Purbaya, APBN masih mampu menahan kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh US$113 per barel, selanjutnya terjun bebas 6,19 persen menjadi US$85,27 per barel pada Selasa (10/3/2026), pukul 15.37 WIB.

Jumpalitannya harga minyak dunia, tentu saja karena perang Iran yang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel. “Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh,” kata Purbaya di wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).

Dia menyebut, asumsi harga minyak atau ICP (Indonesian Crude Price/ICP) dalam APBN 2026 dipatok rata-rata US$70 per barel dalam setahun. Sehingga, kenaikan harga minyak dunia saat ini, belum bisa langsung direspons dengan mengubah asumsi makroekonomi di APBN 2026. Masih terlalu dini untuk mewacanakan kenaian harga BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar.

“Rata-rata setahun kan 70 dolar AS per barel, asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja. Jadi belum cukup alasan untuk mengubah anggaran (APBN 2026). Jadi kita masih bisa absorb,” ujar manan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Purbaya menjelaskan, pengubahan alokasi anggaran dalam APBN, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perlu ada analisa khusus untuk menentukannya, termasuk berapa lama harga minyak diprediksi bergerak naik atau turun. Jadi masih harus menunggu saat yang tepat.

“Jadi kita lihat pastikan, betul enggak naik, betul nggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya sudah kita bisa antipati, naik terus. Ini kan nggak, naik, tiba-tiba turun lagi,” ucapnya.

Purbaya mengakui, sejatinya tidak ingin mengubah APBN 2026 degan terburu-buru, tanpa analisis yang tepat. Hal ini akan membuat pemerintah perlu mengubah anggaran kembali, ketika kondisi berubah normal.

“Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan. Jadi menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham. Jadi (kalau saham), volume-nya, range-nya, horizon-nya pendek sekali. Jadi nggak seperti itu kita manage anggaran,” tuturnya.

Dia pun tetap optimistis bahwa harga minyak dunia masih berpeluang untuk kembali ke level awal. Kalaupun naik, tidaklah terlalu besar. Sehingga masyarakat tak perlu risau dengan adanya isu BBM subsidi bakal naik dalam waktu cepat.

“Enggak bisa, sekarang ini bisa berubah lagi, sekarang ini bisa berubah lagi. Capeklah gue, kerjanya ngerubah-ubah anggaran terus. Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya,” jelas Purbaya melanjutkan.

SBY: Siapkah BBM dan Gas Naik?

Sebelumnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara soal konflik Timur Tengah dan sejumlah imbas kepada perekonomian Indonesia. Apalagi kalau bukan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat menentukan perekonomian nasional.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Foto: Wikipedia)
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Foto: Wikipedia)

Sebab, kata pria asal Pacitan, Jawa Timur (Jatim) itu, konflik di Timur Tengah, khususnya Iran yang memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, sangat memengaruhi rantai pasok energi global.

“Di Selat Hormuz itu ada 20 persen kekuatan energi dunia. Apakah itu crude oil, apakah bahan bakar minyak, apakah gas yang kalau tersumbat akan mengganggu pasokan, supply,” kata SBY, dikutip dari YouTube resminya, Selasa (3/3).

Jika Hormuztersumbat karena konflik, suplai energi akan berkurang. Tak banyak lagi negara yang mau berlayar melintasi selat berbahaya tersebut. Imbasnya, suplai menipis dan harga meroket.

“Harga pasti akan meroket. 2 hari ini sudah naik 20 dolar per barel. Begitu. Nah, akhirnya cepat atau lambat dengan asumsi perangnya berkepanjangan, dengan asumsi negara OPEC plus tidak menambah besar-besaran, maka kekurangan suplai akan sangat terasa berbanding lurus dengan kenaikan harga. Begitu,” kata SBY cakap melukis itu.

Ketika harga minyak dunia menyentuh angka US$100 atau bahkan lebih per barel, tentunya memberatkan APBN 2026 yang mematok harga minyak mentah di level US$70 per barel. Mau tak mau muncul opsi mengerek naik harga BBM.

“Kalau tembus 100 dolar, 150 dolar defisit bisa ratusan triliun. Apalagi jika perangnya panjang, berimbas ke APBN. Mau dikasih subsidi habis-habisan, ya jebol. Tapi kalau enggak, harga BBM naik. Harga gas juga naik. Siapkah kita,” imbuh SBY.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang