Penggunaan AI ChatGPT Cs Dituding Jadi Biang Kerok Krisis Air Bersih Dunia, Benarkah?

Percakapan soal bahayanya kecerdasan buatan (AI) kembali memanas di media sosial. Di X/Twitter, unggahan pengguna @wisestardust yang mengaitkan penggunaan AI dengan hilangnya air bersih hingga penipisan lapisan ozon mendapat perhatian masif, dengan jutaan penayangan hanya dalam hitungan jam. Keluhan ini mewakili kecemasan publik yang makin besar, tetapi tidak semuanya berdiri di atas fondasi ilmiah yang tepat.

Dampak lingkungan AI memang nyata—terutama konsumsi air dan energi. Namun beberapa klaim yang beredar terlalu disederhanakan, bahkan keliru. Data internasional menunjukkan ancaman utama bukan ozon, melainkan jejak air dan karbon yang melonjak cepat akibat ekspansi pusat data global.

Setiap kali seseorang menggunakan chatbot seperti ChatGPT atau Grok, pusat data bekerja dalam beban tinggi untuk memproses permintaan. Server yang menyala penuh menghasilkan panas ekstrem, lalu didinginkan melalui sistem cooling tower yang menguapkan air bersih. Proses inilah yang membuat teknologi AI disebut “haus air”.

Studi yang dilakukan Li et al. (2023) dari University of California, Riverside memperkirakan pelatihan model GPT-3 menghabiskan hingga 700 ribu liter air, bergantung lokasi dan metode pendinginan. 

Penelitian lain menunjukkan interaksi harian AI generatif dapat menyedot air setara 300–500 ml per pengguna untuk 20–50 prompt. Angka ini bukan hitungan resmi perusahaan, tetapi representasi dampak dari mekanisme komputasi intensif.

Laporan dari Analytics Vidhya yang ditulis K.C. Sabreena Basheer menggambarkan situasinya lebih gamblang. 

Ia menulis bahwa “Kecerdasan Buatan… diam-diam menguras sumber daya air kita. Hasrat akan daya yang ditunjukkan oleh AI, termasuk sistem canggih seperti ChatGPT, menyebabkan peningkatan konsumsi air yang mengkhawatirkan.” Temuan ini bukan retorika. Data perusahaan menunjukkan lonjakan yang signifikan.

Menurut laporan lingkungan industri teknologi Microsoft, konsumsi air mereka naik 34 persen dari 2021 ke 2022, mencapai 1,7 miliar galon, setara lebih dari 2.500 kolam renang Olimpiade. Google juga melaporkan kenaikan 20 persen, dengan total konsumsi air mencapai 5,6 miliar galon pada 2022—lonjakan yang secara eksplisit dikaitkan dengan ekspansi AI mereka.

Basheer menegaskan bahwa skala penggunaan ini dapat “menyebabkan kekurangan air global” jika tidak dikendalikan. Ia juga menyebutkan bahwa ChatGPT diperkirakan “menghabiskan sekitar 500 ml air untuk setiap 5–50 prompt.” Dengan miliaran interaksi pengguna per hari di seluruh dunia, dampak totalnya sangat besar.

Masalah konsumsi listrik tidak kalah besar. International Energy Agency (IEA) merilis laporan pada 2024 yang memproyeksikan konsumsi listrik pusat data global—sebagian besar untuk AI—akan menyentuh 900 TWh pada 2026, setara dengan kebutuhan listrik negara seperti Belanda atau Argentina. Jika listrik tersebut masih ditopang batu bara dan gas, maka jejak karbon AI akan melonjak drastis. Emisi inilah yang berkontribusi pada pemanasan global, bukan AI secara langsung membuat “dunia makin panas”.

Yang pasti keliru adalah klaim bahwa AI menipiskan lapisan ozon. Penipisan ozon memiliki penyebab ilmiah yang sangat spesifik, yaitu senyawa CFCs dan HCFCs yang sempat digunakan pada AC dan kulkas lama. Sejak Protokol Montreal 1987 diberlakukan, ozon justru menunjukkan tren pemulihan. AI tidak memproduksi zat perusak ozon dan tidak berhubungan dengan reaksi kimia di stratosfer. Kekhawatiran publik soal panas global harus diarahkan pada gas rumah kaca, bukan ozon.

Meski begitu, industri teknologi menyadari bahwa jejak lingkungan AI tidak dapat dibiarkan tanpa mitigasi. Google dan Microsoft menyatakan komitmen menuju operasi berbasis energi terbarukan 24/7. Penelitian pendinginan alternatif melalui liquid immersion cooling menunjukkan potensi untuk menekan konsumsi air signifikan. Produsen chip seperti NVIDIA mengembangkan GPU generasi terbaru yang lebih hemat energi, sementara sejumlah pusat data di AS mulai menggunakan air daur ulang agar tidak menguras suplai air minum.

AI berada di persimpangan penting: ia memberi lompatan inovasi, namun jejak air dan karbonnya memiliki konsekuensi yang tidak boleh diabaikan. Viral di media sosial menunjukkan publik mulai mempertanyakan arah perkembangan teknologi ini—pertanyaan yang sah dan perlu dijawab dengan data, bukan asumsi.

Tantangannya ke depan bukan menghentikan AI, melainkan memastikan ekosistemnya dibangun secara berkelanjutan. Transparansi perusahaan, adopsi energi bersih, penghematan air, serta peningkatan efisiensi komputasi akan menentukan apakah AI menjadi alat kemajuan, atau justru mempercepat beban ekologis bumi yang semakin rapuh.