Pasar Saham ‘Terbakar’, IHSG Terjun Bebas Nyaris 4 Persen

Iwan Medium.jpeg

Senin, 8 Juni 2026 – 10:58 WIB

Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA/Sulthony Hasanuddin/bar).

Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA/Sulthony Hasanuddin/bar).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sesi perdagangan Senin pagi (8/6/2026) belum terdengar adanya kabar baik di pasar saham. Karena, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas mendekati 4 persen.

Mengacu data IDX sekitar pukul 10.45 WIB, IHSG anjlok 3,8 persen atau setara 213 poin ke level 5.382,58. Saat pembukaan, IHSG ‘menclok’ di level 5.486, sempat bergerak naik ke posisi 5.490.

Aktivitas perdagangan di awal sesi mencapai 2,71 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,87 triliun. Sementara frekuensi perdagangan sebanyak 181.732 kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.527,55 triliun.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata  menyarankan para investor untuk kembali wait and see, sebelum ambil posisi beli atau average down.

Tema utama pasar global, saat ini, adalah pergeseran fokus dari harapan pemangkasan suku bunga, menuju risiko kenaikan suku bunga tambahan oleh bank sentral AS (The Fed).

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini sepenuhnya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga 25 bps sebelum akhir tahun, dan bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan tambahan.

Data Nonfarm Payrolls AS Mei 2026 bertambah 172.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi 85.000, sementara tingkat pengangguran tetap di 4,3 persen. Data ekonomi yang kuat justru menjadi kabar buruk bagi pasar saham karena memperkuat keyakinan bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama.

“Sehingga, membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap yang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar saat ini,” ujar Liza, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Dia mengatakan, fokus utama pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan negosiasi AS dengan Iran, dan respons Israel setelah serangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David pada akhir pekan.

“Perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga,” ujar Liza.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang