Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (tengah) dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie (kiri) dalam jumpa pers di sela Road to Jakarta Food Security Summit di Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Foto: ANTARA/Harianto).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, di tengah lonjakan harga minyak dunia imbas meningkatnya eskalasi di Timur Tengah (Timteng).
Menko Airlangga menyebut, pemerintah masih memantau perkembangan konflik di Timteng, untuk mengambil langkah kebijakan selanjutnya. “Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (Indonesian Crude Price/ICP). Jadi kita tunggu saja,” ujar Menko Airlangga, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menko Airlangga menerangkan, pemerintah saat ini, tengah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi kemungkinan dampak berkepanjangan dari konflik tersebut. “Sampai kapan, ya perang bisa 3 bulan, bisa 6 bulan. Bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) skenario,” kata dia.
Sebagai informasi, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menutuskan untuk menutup jalur vital perdagangan minyak dunia yang terletak di selatan Iran, yaitu Selat Hormuz.
Penutupan ditempuh Garda Revolusi Iran, merespons serangan biadab zionis Israel yang disokong Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2). Akibatnya, banyak warga menjadi korban, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei turut menjadi korban kebengisan zionis Israel dan AS.
“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu.
Adapun, potensi penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah dinilai bisa memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Salah satu dampaknya yakni meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai lonjakan harga minyak mentah global dan kenaikan harga barang impor dapat membuat anggaran subsidi energi membengkak. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas fiskal jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Ketika harga minyak mentah dan barang impor naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak terutama untuk BBM. Anggaran kita bisa jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” ujar Huda kepada inilah.com, Jakarta, Kamis (5/3/2026).












