Meski Menguat, Rupiah Masih Dekat Rp17.000/US$: Purbaya Harap-harap Cemas Ambruk Lagi

Vonita Medium.jpeg

Selasa, 10 Maret 2026 – 20:27 WIB

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). (Foto: inilah.com/Clara Anna)

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). (Foto: inilah.com/Clara Anna)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Penutupan perdagangan spot Selasa (10/3/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis 0,5 persen ke level Rp16.861 per dolar AS (US$).

Betul menguat, tapi masih dekat-dekat dengan nilai psikologis Rp17.000/US$. Indeks dolar AS anjlok 0,6 persen ke posisi 98,58.

Atas fenomena ini, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa bisa menghela nafas sejenak. Ya, nafasnya pendek-pendek sesuai dengan tipisnya penguatan mata uang Garuda.  

Dia memastikan belum berpikir untuk mengubah APBN 2026 yang mematok kurs rupiah bertengger di level Rp16.500/US$. Artinya, kurs saat ini sudah di atas asumsi makro APBN 2026.

Purbaya menjelaskan, mengubah alokasi anggaran dalam APBN tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia juga menyebut perlu ada analisa khusus untuk menentukannya, termasuk berapa lama harga minyak diprediksi akan merangkak naik dan turun.

“Jadi kita lihat pastikan, betul nggak naik, betul nggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya sudah kita bisa antipati naik terus. Ini kan nggak, naik, tiba-tiba turun lagi,” ucapnya.

Purbaya mengaku tidak ingin mengubah anggaran dilakukan terburu-buru tanpa analisis yang tepat. Hal ini akan membuat pemerintah perlu mengubah anggaran kembali, ketika kondisi berubah normal.

“Enggak bisa, sekarang ini bisa berubah lagi, sekarang ini bisa berubah lagi. Capek lah gue, kerjanya ngerubah-rubah anggaran terus. Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya,” kata Purbaya.

Nasib baik juga dialami sejumlah mata uang Asia yang mayoritas menuat terhadap dolar AS. Penguatan paling signifikan dialami baht Thailand yang naik 1,45 persen, peso Filipina menguat 1,03 persen, diikuti ringgit Malaysia yang menguat 0,93 persen.

Secara keseluruhan, pergerakan mata uang Asia hari ini mencerminkan sentimen risk-on di pasar Asia. Meredanya tensi perang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang mungkin akan segera berakhir membuat pasar emerging markets kembali diminati investor dengan melepas aset dolar AS.

Pernyataan Trump juga ikut meredakan harga minyak yang kembali turun 7,55 persen ke US$91,49 per barel, setelah sempat melonjak hingga US$113 per barel saat pembukaan perdagangan. 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang