Kredit BNI Tembus Rp968,5 Triliun, PPOP Cetak Rekor Sepanjang Sejarah Semester I

Nebby Medium.jpeg

Senin, 10 Agustus 2026 – 21:01 WIB

Aplikasi wondr by BNI. (Foto: Dok BNI).

Aplikasi wondr by BNI. (Foto: Dok BNI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat pertumbuhan kredit 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun hingga akhir Juni 2026. Ekspansi itu dibarengi perbaikan kualitas aset dan penguatan pendanaan murah.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan tetap selektif mengarahkan pembiayaan ke sektor dan ekosistem yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan sehat.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” kata Putrama dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Pertumbuhan kredit BNI tersebar di berbagai segmen, mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer. Ekspansi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur.

Di saat kredit tumbuh, struktur pendanaan BNI ikut menguat. Dana murah atau current account saving account (CASA) naik 11,2 persen secara tahunan dengan rasio CASA mencapai 65,4 persen.

Penguatan dana murah turut menekan biaya dana pihak ketiga atau cost of fund menjadi 2,56 persen pada semester I 2026, dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) tumbuh 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Fee-based income (FBI) juga naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Kinerja tersebut mendorong pre-provision operating profit (PPOP) BNI mencapai Rp18,5 triliun. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara laba bersih tercatat Rp10,8 triliun.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan sumber pendapatan perseroan semakin beragam, tidak hanya bergantung pada pertumbuhan kredit.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.

Kualitas Aset Ikut Membaik

Pertumbuhan kredit juga dibarengi perbaikan kualitas aset. Hingga akhir Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) turun menjadi 8,1 persen dari 11 persen. Rasio non-performing loan (NPL) tercatat 1,9 persen.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menilai kualitas aset tersebut ditopang disiplin manajemen risiko sejak penentuan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan setelah kredit disalurkan. BNI juga memperkuat sistem peringatan dini untuk mendeteksi perubahan profil risiko lebih cepat.

Transformasi digital turut menjadi penopang kinerja. Pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta hingga akhir Juni 2026 dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan.

Pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu. Volume transaksinya meningkat 17 persen menjadi Rp6.039 triliun.

Memasuki semester II 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta memperkuat transformasi digital dan manajemen risiko.

Perseroan juga menjalankan program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah operasional untuk memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi daerah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang