Ini Baru Top: Ketimbang Nambah Utang, Menkeu Purbaya Pilih Ketatkan Ikat Pinggang

Clara Medium.jpeg

Senin, 16 Maret 2026 – 21:23 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat diwawancarai wartawan di halaman Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam. (Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat diwawancarai wartawan di halaman Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam. (Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah memilih jalan efisiensi atau ketatkan ikat pinggang alias tight money policy (TMP) ketimbang mengoleksi utang anyar lewat penaikan ambang batas defisit anggaran menjadi di atas 3 persen.

Opsi menaikkan ambang batas defisit APBN menjadi di atas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), menghadapi tekanan harga minyak mentah dunia, akibat konflik di Timur Tengah, menurut Menkeu Purbaya, telah dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pada Senin (16/3/2026).

“Jadi tadi ada didiskusikan, kalau harga BBM naik terus, langkah pertama ya itu, efisiensi. Kita sudah mempersiapakan langkah-langkah yang diperlukan oleh kementerian atau lembaga (K/L) nanti,” ucap Purbaya.

Dalam rakortas itu, setiap kementerian atau lembaga (K/L) diminta untuk mulai mempersiapkan porsi anggaran yang bisa dipangkas. “Mereka sudah kita suruh siapkan, kita minta siapkan, berapa persen anggarannya dipotong,” tegasnya.

Menkeu Purbaya menuturkan, arahan untuk efisiensi anggaran ini, termasuk untuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi pelaksana program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis alias MBG.

“Kan ada anggaran tambahan-tambahan yang membuat gelembung sekali. Jadi dengan anggaran sekarang yang pertama ya kita fokus ke yang ada aja programnya. Yang tambahan kita tunda dulu sampai waktu yang memungkinkan, tapi sekarang jelas enggak mungkin,” tutur Menkeu Purbaya.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kata dia, mulai pekan depan, mulai menghitung besaran efisiensi anggaran yang bisa dilakukan pemerintah. Untuk mengantisipasi gejolak harga minyak mentah dunia yang dikhawatirkan anteng di level US$100 per barel, atau di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Dampak dari perang AS-Israel yang mengeroyok Iran.

“Tapi belum tentu eksekusi ya, kalo mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan Kementerian Keuangan,” paparnya.

Menkeu Purbaya menegaskan, efisiensi menjadi opsi yang paling baik untuk mengantisipasi tekanan harga minyak mentah dunia ketimbang memperlebar defisit APBN. Sebab, pemerintah tak lagi perlu menambah beban fiskal melalui utang.

“Enak amat kerja saya, yaudah pak kita naikin aja defisit, saya santai, ngutang lagi lebih banyak, tapi kan entar kalia marah-marah lagi, pemerintah ngutang terus,” tegas mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Di sisi lain, ia menekankan, saldo anggaran lebih atau SAL pemerintah pun masih cukup kuat untuk menutup potensi defisit APBN yang melebar ke level 3,5% PDB atau setara tambahan Rp110 triliun dari rancangan defisit saat ini Rp 698 triliun.

“Kalau cuma butuh Rp 110 triliun saja saya bisa tutup dari SAL saya, masih cukup kan uang saya, jadi Anda enggak usah takut. Saya masih punya tabungan, jadi jangan takut,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang