Indonesia Belum Dapat Akses Lewati Selat Hormuz, Bahlil Mau Cari Minyak dari Negara Lain

Nebby Medium.jpeg

Kamis, 26 Maret 2026 – 20:38 WIB

Ilustrasi - Sebuah kapal tengah melintas di perairan Selat Hormuz, Iran. (Foto: AFP/Sahar al Attar)

Ilustrasi – Sebuah kapal tengah melintas di perairan Selat Hormuz, Iran. (Foto: AFP/Sahar al Attar)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah berupaya mengamankan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

“Presiden semalam memerintahkan kepada saya dan tim, untuk segera mencari pasokan-pasokan minyak kita, dari hampir semua negara,” ucap Bahlil saat kunjungan kerja di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).

Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan energi, terutama setelah konflik di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Kondisi tersebut turut berdampak pada distribusi minyak global, termasuk akses melalui Selat Hormuz. Apalagi Iran belum membuka selat Hormuz untuk Indonesia.

“Kita harus menyadari, bahwa kondisi geopolitik ini tidak ada satu orang pun yang dapat meramalkan,” ucapnya.

Bahlil juga menjelaskan, cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini berada pada kisaran 21 hingga 28 hari, sesuai dengan standar kapasitas minimal. Namun, ia menekankan bahwa kondisi stok bersifat dinamis karena terus mengalami pergerakan antara distribusi dan pengisian ulang.

Sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan, pemerintah mengoptimalkan operasional kilang dalam negeri sekaligus memperluas sumber impor.

“Kita mengoptimalkan kilang-kilang kita yang ada di Indonesia dan impor kita di negara-negara lain,” ujar Bahlil.

Untuk jenis solar, pemerintah mengklaim Indonesia berada dalam posisi relatif aman karena tidak lagi bergantung pada impor.

“Saya menyampaikan di kesempatan ini bahwa sekalipun negara-negara lain, negara tetangga sebagian, sebagian negara di Asia udah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara, dalam hal ini darurat, saya yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear,” ujar Bahlil.

Sementara itu, kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi sekitar 50 persen dari impor, sedangkan sisanya berasal dari produksi dalam negeri. Adapun kebutuhan LPG masih didominasi impor, yakni sekitar 70 persen dari total konsumsi nasional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang