Kementerian Sosial (Kemensos) terus memberikan pendampingan kepada warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga Rabu (19/8/2026), petugas Kemensos masih berada di lapangan untuk melayani warga di pengungsian, menyalurkan bantuan logistik, mengoperasikan dapur umum, dan melakukan asesmen kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan laporan sementara per 19 Agustus, gempa berdampak terhadap 3.042 kepala keluarga atau 12.170 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Boawae, Mauponggo, Keo Tengah, Wolowae, Aesesa, Aesesa Selatan, dan Nangaroro.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan fokus penanganan saat ini diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.
“Sekarang kita konsentrasi pada kebutuhan warga. Mereka yang masih mengungsi harus bisa makan, punya tempat berlindung yang layak, dan kebutuhan sehari-harinya tersedia. Tim di lapangan terus melihat apa yang masih kurang, itu yang kita tindak lanjuti,” kata Gus Ipul.
Ribuan Warga Mengungsi
Sebaran warga terdampak paling banyak tercatat di Kecamatan Aesesa dengan 4.386 jiwa. Berikutnya Mauponggo sebanyak 1.268 KK atau 4.229 jiwa, Nangaroro 1.759 jiwa, Keo Tengah 456 KK atau 1.437 jiwa, Boawae 274 KK atau 1.379 jiwa, Wolowae 196 KK atau 739 jiwa, serta Aesesa Selatan sebanyak 970 jiwa.
Warga terdampak saat ini berada di sejumlah titik pengungsian, baik secara komunal maupun mandiri.
Di Kecamatan Aesesa, lokasi pengungsian antara lain berada di Desa Anakoli, Desa Lape, Dadiwuwu, Malaruma, serta sepanjang Jalan Desa Aelape hingga SDLB. Sebagian warga juga memilih mendirikan tenda secara mandiri di sekitar rumah masing-masing.
Hingga 19 Agustus, enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa di Kabupaten Nagekeo. Kemensos bersama pemerintah daerah masih melakukan verifikasi dan validasi terhadap data korban meninggal maupun korban luka.
Setelah proses tersebut selesai, Kemensos akan memberikan santunan kepada ahli waris korban meninggal sebesar Rp15 juta untuk setiap korban.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Untuk korban meninggal, setelah datanya terverifikasi, ahli waris akan mendapatkan santunan. Kami akan upayakan prosesnya segera dengan data yang sudah diverifikasi,” ujar Gus Ipul.
4.829 Rumah Terdampak Gempa
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada ribuan rumah dan fasilitas pelayanan masyarakat. Data sementara mencatat sebanyak 4.829 rumah terdampak.
Rinciannya, 1.702 rumah mengalami rusak berat, 560 rumah rusak sedang, dan 2.567 rumah rusak ringan.
Selain rumah warga, sebanyak 110 fasilitas pelayanan masyarakat juga dilaporkan terdampak. Fasilitas tersebut terdiri atas 85 fasilitas pendidikan, delapan fasilitas kesehatan, dan 17 tempat ibadah.
Data kerusakan tersebut masih dalam proses pembaruan seiring dengan asesmen yang dilakukan petugas di wilayah terdampak.
Dapur Umum Produksi 8.000 Porsi
Untuk memenuhi kebutuhan makan warga di pengungsian, Kemensos mengoperasikan dapur umum di Lapangan Kantor Kapet, Kecamatan Aesesa.
Dapur umum mulai beroperasi pada 17 Agustus dengan kapasitas produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan warga terdampak. Pada hari pertama, sebanyak 1.000 porsi makanan diproduksi.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 3.000 porsi pada 18 Agustus. Kemudian pada 19 Agustus, dapur umum menyiapkan 4.000 porsi makanan untuk dua kali makan.
Dalam tiga hari sejak beroperasi, dapur umum Kemensos telah menyiapkan 8.000 porsi makanan bagi masyarakat terdampak gempa.
“Jumlah makanan yang disiapkan tentu mengikuti kebutuhan warga. Karena itu, teman-teman yang mengelola dapur umum terus berkoordinasi dengan petugas yang melakukan pendataan. Jangan sampai ada warga yang membutuhkan tetapi belum terlayani,” kata Gus Ipul.
Kemensos Salurkan Bantuan Rp475 Juta
Selain menyediakan makanan, Kemensos juga menyalurkan bantuan logistik kedaruratan ke Kabupaten Nagekeo. Melalui Sentra Efata Kupang, bantuan senilai Rp475.102.995 telah didistribusikan kepada warga terdampak.
Bantuan tersebut terdiri atas 206 paket makanan anak, 150 paket family kit, 150 paket kids ware, 213 lembar kasur, 300 lembar selimut, 200 lembar tenda gulung, 101 velbed, 60 paket sandang dewasa, empat unit tenda keluarga, dan dua unit tenda serbaguna.
Kemensos juga melakukan belanja langsung sebanyak 500 paket sembako. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan warga tanpa harus menunggu seluruh logistik tiba dari gudang.
Penanganan di lapangan terus dilakukan dengan mengacu pada hasil asesmen dan pendataan kebutuhan warga. Kemensos memastikan bantuan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat, terutama bagi warga yang masih berada di lokasi pengungsian.













