Dua dari kiri: Ekonom Ichsanuddin Noorsy dalam diskusi bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia” di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Rabu (25/2/2026). (Foto: Inilah.com/Vonita).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom Ichsanuddin Noorsy melempar kritik pedas terhadap arah pembangunan ekonomi nasional. Ia menilai Indonesia tengah didera kelumpuhan struktural, mulai dari nilai tukar yang terus rontok hingga kian bengkaknya sektor informal yang ia sebut sebagai Modern Slavery System atau sistem perbudakan modern.
Ichsanuddin membeberkan data ngeri soal rupiah yang disebutnya tak pernah berdaya sejak 1961.
“Data saya menunjukkan bahwa sejak tahun ’61 sampai dengan hari ini, rupiah tidak pernah menguat,” tegasnya dalam diskusi bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia” di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Rabu (25/2/2026).
Hitungan Ichsanuddin, sejak era Reformasi bergulir, rupiah rata-rata terdepresiasi sekitar 9,38 persen saban tahun. Jika ditotal dalam 27 tahun terakhir, kejatuhannya mencapai angka fantastis 268,33 persen. Kondisi ini yang dinilainya mencekik ruang fiskal dan memperlebar jurang ketimpangan.
Ia juga menyoroti fenomena deindustrialisasi di mana sektor industri dan pertanian kian layu, sementara jasa informal malah meroket.
“Terbukti, data yang saya punya, sektor industri kontribusinya menurun, sektor pertanian kontribusinya terhadap PDB menurun, tapi sektor jasa naik terus. Dan jasanya jasa informal,” ucap Ichsanuddin.
Fenomena inilah yang ia labeli sebagai perbudakan modern. Di mana perlindungan sosial rendah dan pendapatan tidak pasti, namun orang-orang terpaksa melakoninya demi menyambung hidup.
“Apa poinnya? Poinnya telah terjadi apa yang saya sebut sebagai Modern Slavery System. Sistem perbudakan modern. Di mana orang menjadi budak tapi dia tidak merasa jadi budak,” ujarnya menyentil.
Ichsanuddin mencontohkan ledakan pekerja transportasi online sebagai pelarian dari badai PHK di sektor formal. Baginya, menganggap UMKM atau sektor informal sebagai penyelamat ekonomi adalah sebuah kekeliruan besar, melainkan bukti nyata kegagalan negara.
“Ketika kita bilang UMKM menjadi jalan keluar penyelamat ekonomi, ternyata menjadi bukti bahwa itu kegagalan. Dia bukan penyelamat,” paparnya.
Daya tahan UMKM pun disebutnya sangat rapuh. Berdasarkan data yang ia miliki, mayoritas pelaku usaha kecil ini hanya mampu bertahan seumur jagung sebelum akhirnya kembali ke jerat kemiskinan.
“Yang keluar dari UMKM dan kemudian mundur, terperosok dalam kemiskinan, itu umur tiga tahun. Dia hanya bisa bertahan tiga tahun. Selebihnya dia terperosok miskin,” pungkasnya.










