Syahwat perang Amerika Serikat dan sekutu dekatnya, Israel, nampaknya belum menemui titik jenuh. Di tengah guncangan ekonomi global yang kian parah, Pentagon justru menegaskan tidak ada niat untuk menetapkan tenggat waktu berakhirnya agresi militer di tanah Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam pernyataannya pada Kamis (19/3/2026), seolah memberikan sinyal bahwa dunia harus bersiap menghadapi konflik berkepanjangan. Sejak agresi dimulai pada 28 Februari lalu yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, AS-Israel kini terjebak dalam perang atrisi yang mereka sulut sendiri.
“Kami tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti,” ujar Hegseth dingin, sebagaimana dikutip dari AFP. Pernyataan ini menjadi lonceng peringatan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah sama sekali bukan prioritas Washington saat ini.
Cek Kosong Rp3.394 Triliun untuk Mesin Perang
Ketidaksertaan AS dalam menetapkan batas waktu perang dibarengi dengan permintaan dana yang fantastis. Pentagon dilaporkan telah menyodorkan tagihan tambahan kepada Kongres sebesar lebih dari 200 miliar dollar AS atau menembus angka mengerikan: Rp3.394 triliun.
Dana raksasa ini seolah menjadi ‘cek kosong’ bagi mesin perang Donald Trump untuk terus membombardir kawasan tersebut. Hegseth bahkan mengisyaratkan jumlah ini masih bisa membengkak, sebuah beban finansial yang luar biasa di tengah tuntutan publik akan pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan inflasi global.
Satu hal yang pasti, nasib jutaan nyawa dan stabilitas energi dunia kini hanya digantungkan pada satu orang.
“Ini pada akhirnya akan menjadi pilihan presiden (Trump),” tambah Hegseth, menegaskan bahwa diplomasi telah mati dan digantikan oleh kebijakan satu arah dari Gedung Putih.
‘Warthog’ dan ‘Apache’: Alat Penekan di Jalur Minyak Dunia
Sementara itu, mesin pembunuh AS terus dikerahkan untuk mematahkan sisa-sisa perlawanan Iran. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengonfirmasi pengerahan pesawat A-10 Warthog di Selat Hormuz. Pesawat yang dikenal sebagai ‘pembantai tank’ ini ditugaskan untuk menghancurkan kapal-kapal cepat Iran yang berupaya mempertahankan kedaulatan laut mereka.
Tak cukup di laut, agresi ini juga meluas ke kedaulatan Irak. Helikopter serang AH-64 Apache aktif menyisir wilayah Irak untuk menghancurkan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan kepentingan AS.
Langkah militeristik yang agresif ini tidak hanya memicu kemarahan di kawasan, tetapi juga membuktikan bahwa AS-Israel lebih memilih bahasa peluru ketimbang meja runding. Akibatnya, pasokan minyak dunia yang menyusut seperlima akibat konflik ini terus mencekik perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.










