Ilustrasi Perbandingan biaya ke Bandung naik Whoosh dengan transportasi lain (Foto: Sekretariat Negara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Keberadaan Kereta Whoosh yang dulunya bernama Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) warisan rezim Jokowi, kerap disebut kemajuan Indonesia di sektor transportasi dan infrastruktur. Tapi sayang maharnya terlalu mahal.
Bayangkan saja, PT Wijaya Karya (Persero/WIKA) Tbk yang dipaksa ‘ikut’ dalam proyek Kereta Whoosh, harus menanggung utang jumbo. Alhasil, keuangan perusahaan berdarah-darah dalam jangka panjang.
Kepala Badan Pengelola Investasi (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan, beban keuangan yang harus disangga WIKA akibat proyek Kereta Whoosh, cukup berat.
Karena, WIKA memiliki penyertaan saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) melalui konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Di mana, saham WIKA di PSBI adalah kedua terbesar setelah PT KAI (Persero), yakni 33,36 persen.
Selain itu, WIKA memiliki kewajiban dan tagihan yang belum ‘diselesaikan’ KCIC, sehingga terus menekan keuangan perusahaan.
“Mereka (WIKA) punya saham di KCIC. Dan, ada tagihan (WIKA) yang juga belum diselesaikan (KCIC), ini menjadi beban buat mereka,” ujar Dony dikutip Rabu (5/8/2026)
Karena itu, Danantara memastikan persoalan tersebut tidak akan dibiarkan dan sedang menyiapkan skema penyelesaiannya. Tekanan dari proyek Kereta Whoosh yang mendera WIKA terlihat dari laporan keuangan kuartal I-2026 yang merugi Rp483,80 miliar.
Proyek Ugal-ugalan Era Jokowi
Mengingatkan saja, proyek Kereta Whoosh yang sebelumnya bernama Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dicanangkan era pemerintahan Jokowi.
Proyek ini diawali dari penandatanganan nota kesepahaman kerja sama KCJB antara Kementerian BUMN dan Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi Republik Rakyat Tiongkok (NDRC) pada 26 Maret 2015.
Selanjutnya, kedua belah pihak meneken Pengaturan Kerangka Bersama antara Kementerian BUMN dan NDRC. Dan, Kementerian BUMN mendirikan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang dipimpin PT Wijaya Karya (Persero/WIKA) Tbk. Sedangkan China dipimpin China Railway International Co. Ltd.
Keduanya membentuk PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang mengelola Kereta Whoosh. Komposisi sahamnya di PT PSBI berubah-ubah.
4 BUMN Kompak Merugi
Per Desember 2025, WIKA tak lagi menjadi leader, digantikan PT KAI yang mengempit 58,53 persen saham. Sementara WIKA menggenggam 33,36 persen saham. Disusul PT Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN VIII 1,03 persen.
Adapun, struktur pemegang saham keseluruhan di KCIC meliputi konsorsium PSBI sebesar 60 persen, dan China Railway 40 persen. Namun pada 2017, China Railway melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT KCIC ke Beijing Yawan.
Meski telah beroperasi tiga tahun, atau sejak 2023, kinerja Kereta Whoosh, jauh di bawah target awal.
Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pemeriksaan Kepatuhan PT WIKA Tahun Buku 2022 sampai Semester I 2024, menunjukkan keuangan perseroan yang mulai megap-megap.
Dalam laporan yang terbit pada Desember 2025, BPK menyebut PSBI masih rugi hingga 2029. Kerugian ini otomatis berdampak pada para pemegang saham. Yakni KAI, WIKA, Jasa Marga maupun PTPN VIII.
Kerugian proyek Kereta Whoosh benar-benar terus membengkak. Hal itu terungkap dari laporan keuangan konsolidasian interim KAI di paruh pertama 2026. Disebutkan, PSBI harus menanggung kerugian bersih Rp5,13 triliun di semester I-2026.
Tak hanya rugi, aset PSBI ikut menyusut. Hingga 30 Juni 2026, total asetnya turun dari Rp25,2 triliun, menjadi Rp21,5 triliun. Utang perseroan membengkak dari Rp20,1 triliun, menjadi 21,5 triliun.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













