Kiri-kanan: Direktur Risk Management BNI David Pirzada, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, dan Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena. BNI mencatat pertumbuhan kredit 24,4% menjadi Rp968,5 triliun pada semester I 2026, dengan LAR membaik menjadi 8,1% dan NPL terjaga di 1,9%. (Foto: Dok BNI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat pertumbuhan kredit cukup kencang sepanjang semester I 2026. Kredit perseroan melonjak 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun, sementara laba bersih tercatat Rp10,8 triliun.
Ekspansi itu berlangsung di tengah persaingan likuiditas perbankan serta dinamika ekonomi dan geopolitik global. BNI memilih menyebar penyaluran kredit ke sejumlah segmen, mulai dari korporasi, bisnis menengah, UMKM hingga konsumer.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan strategi pertumbuhan perseroan tetap diarahkan pada kualitas portofolio dan penguatan bisnis inti.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama.
Arah tersebut juga diselaraskan dengan transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. BNI menitikberatkan strategi pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola profesional, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Dari sisi pendanaan, dana murah atau current account saving account (CASA) tumbuh 11,2 persen secara tahunan. Rasio CASA bertahan di level 65,4 persen.
Kondisi tersebut ikut menekan biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga turun menjadi 2,56 persen dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan inti juga bergerak naik. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun.
Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) ikut tumbuh 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
Kombinasi keduanya membawa laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) BNI mencapai Rp18,5 triliun. Angka tersebut menjadi PPOP tertinggi BNI sepanjang sejarah untuk periode semester pertama.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan sumber pendapatan perseroan kini tak hanya bertumpu pada penyaluran kredit.
“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.
Transaksi Digital Melaju, Risiko Kredit Membaik
Di tengah ekspansi kredit tersebut, indikator kualitas aset BNI justru membaik. Rasio loan at risk (LAR) turun dari 11 persen menjadi 8,1 persen hingga akhir Juni 2026.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 1,9 persen.
BNI tetap mempertahankan pencadangan konservatif untuk menjaga ketahanan neraca di tengah pertumbuhan kredit yang tinggi.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan pengawasan risiko dilakukan sejak pemilihan sektor hingga kredit telah dikucurkan.
“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” ujar David.
Di jalur digital, wondr by BNI mencatat 15,1 juta pengguna hingga akhir Juni 2026. Volume transaksinya melesat 110 persen secara tahunan.
Pertumbuhan juga terjadi pada BNIdirect yang melayani segmen wholesale. Penggunanya mencapai 280 ribu dengan volume transaksi tumbuh 17 persen menjadi Rp6.039 triliun.
Digitalisasi tersebut berjalan beriringan dengan perubahan pengelolaan kantor cabang melalui BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment. Program itu telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI.
Melalui BRAVE, kantor cabang diarahkan tak sekadar menjadi titik layanan, tetapi juga mesin penjualan yang berburu potensi bisnis di daerah masing-masing.
“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah,” ujar Putrama.
Memasuki semester II 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan sekaligus menjaga ekspansi kredit tetap terdiversifikasi. Perseroan juga bakal meneruskan transformasi BRAVE dan digital serta menjaga kualitas aset melalui pencadangan dan pengelolaan risiko.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BNI di bawah koordinasi Danantara Indonesia untuk memperkuat fundamental bisnis dan menjaga pertumbuhan dalam jangka panjang.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













