Teheran Tegaskan Israel Ikut Terikat Perjanjian Damai AS-Iran

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya memandang Israel turut terikat sebagai pihak dalam kesepakatan perdamaian dengan Amerika Serikat (AS), sebagaimana kelompok Hizbullah di Lebanon.

“Saya ingin menekankan poin penting: Dari perspektif kami, satu pihak dalam memorandum ini adalah AS dan Israel, di pihak lain yaitu Iran dan Hizbullah,” kata Araghchi dalam pertemuan bersama perwakilan misi diplomatik asing, Selasa (16/6/2026).

Araghchi menekankan bahwa berakhirnya permusuhan di Lebanon adalah aspek yang tidak kalah penting dalam usaha mengakhiri perang antara AS dan Iran. Menurutnya, stabilitas regional menjadi kunci utama dari efektivitas kesepakatan tersebut.

Syarat Penarikan Pasukan Israel

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa perdamaian sejati baru bisa terwujud jika militer Israel mengosongkan wilayah-wilayah yang mereka duduki.

“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka jajah selama perang saat ini, perang tidak dapat dianggap berakhir sepenuhnya,” ucapnya.

Menlu Iran itu juga mengeluarkan peringatan keras mengenai kedaulatan Lebanon pascakemitraan damai ini. Ia menegaskan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon dalam bentuk apa pun akan langsung diperlakukan sebagai pelanggaran berat terhadap memorandum perdamaian yang telah disepakati.

Babak Baru Pascateken MoU Damai

Pernyataan keras Araghchi ini mengemuka setelah AS dan Iran dilaporkan telah secara elektronik menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata di antara kedua belah pihak. 

MoU tersebut ditandatangani secara virtual oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Dokumen perdamaian bersejarah ini dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang.

Sinyalemen redanya ketegangan pun mulai terlihat di jalur perdagangan internasional, di mana Presiden Trump mengumumkan melalui akun Truth Social miliknya bahwa kapal-kapal yang memuat minyak mentah kini telah mulai bergerak keluar dengan aman dari kawasan Selat Hormuz.

Eskalasi Berdarah sejak Februari

Sebagaimana diketahui, ketegangan hebat melanda kawasan Timur Tengah setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Operasi militer berskala masif tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ali Khamenei, dan langsung menyulut sumbu peperangan yang lebih luas.

Kematian Khamenei seketika memicu konflik regional yang membara dan mengubah total lanskap keamanan di Timur Tengah. Selama berbulan-bulan, perang frontal tersebut tak hanya merenggut ribuan nyawa, melainkan juga mengganggu stabilitas pasar energi global serta mengguncang perekonomian dunia akibat ketidakpastian di jalur pasokan minyak. 

Langkah diplomasi terkini diharapkan mampu menjadi titik balik bagi pemulihan keamanan global.