Berawal dari Gigitan Kutu Saat Liburan, Ibu Ini Koma 6 Minggu dan Hilang Ingatan

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 3 Agustus 2026 – 15:16 WIB

Seorang ibu asal Wales mengalami koma selama enam minggu setelah digigit serangga kecil saat melancong ke Pulau Syros, Yunani. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Seorang ibu asal Wales mengalami koma selama enam minggu setelah digigit serangga kecil saat melancong ke Pulau Syros, Yunani. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sebuah peringatan serius bagi masyarakat yang berencana mengisi liburan ke kawasan Eropa. Niat hati ingin menikmati liburan musim panas, nasib nahas justru menimpa Victoria Stellas (51), seorang ibu satu anak asal Anglesey, Wales.

Hidupnya berubah drastis setelah digigit serangga kecil saat melancong ke Pulau Syros, Yunani. Gigitan kutu yang sekilas tampak sepele itu rupanya membawa virus berbahaya yang memicu infeksi otak langka, hingga memaksa tim medis menginduksi tubuhnya dalam kondisi koma selama hampir enam minggu.

Dikutip dari BBC, Senin (3/8/2026), kejadian pilu ini bermula saat Victoria bertandang ke rumah saudara iparnya yang memelihara kambing—hewan yang dikenal kerap menjadi sarang perkembangbiakan kutu. Awalnya, Victoria hanya merasakan meriang dan gejala flu ringan biasa. Namun, begitu kembali ke kediamannya di Wales, kesehatannya merosot tajam diiringi serangan kejang-kejang parah setiap malam.

Melihat kondisi yang kian kritis dan rumit didiagnosis oleh fasilitas kesehatan lokal, Victoria langsung dievakuasi menggunakan helikopter medis ke rumah sakit rujukan Walton Centre di Liverpool. Di sanalah dokter mengambil tindakan darurat dengan menginduksi koma selama 42 hari demi menyelamatkan nyawanya dari kerusakan otak yang lebih parah.

Digerogoti Hilang Ingatan dan Kehilangan Pekerjaan

Hasil pemindaian MRI akhirnya mengonfirmasi bahwa Victoria mengidap Tick-Borne Encephalitis (TBE) atau peradangan otak fatal yang ditularkan melalui gigitan kutu.

Meski berhasil lolos dari cengkeraman maut, dampak dari infeksi TBE ini benar-benar merusak tatanan hidup Victoria. Ia mengalami gangguan daya ingat jangka pendek serta serangan kejang yang bisa datang sewaktu-waktu. Kondisi fisik ini memaksanya berhenti dari pekerjaan sebagai asisten pengajar anak berkebutuhan khusus dan staf di sebuah pub.

“Sebutkan pekerjaan apa yang tidak membutuhkan daya ingat? Semua hal yang Anda lakukan dalam hidup butuh memori. Berbelanja, bekerja, sampai bepergian. Saya bisa mengenali wajah semua orang, tetapi sama sekali tidak bisa mengingat nama mereka. Masalah itu masih ada sampai hari ini,” tutur Victoria dengan nada pilu.

Kini, untuk sekadar bertahan dan mengendalikan gejalanya, Victoria harus mengonsumsi 15 hingga 18 tablet obat saban hari. Bahkan akibat trauma kejang malam yang hebat, ia terpaksa harus tidur didampingi ibunya.

Ancaman Infeksi Otak TBE yang Belum Ada Obatnya

Data dari Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) mencatat, TBE merupakan infeksi virus berbahaya yang menyerang sistem saraf pusat. Gejala awalnya kerap mengecoh karena mirip flu biasa, namun bisa merembet cepat menjadi kebingungan mental, bicara cadel, kejang, hingga kelumpuhan sebagian anggota tubuh.

Pakar spesialis saraf dari Universitas Liverpool, Profesor Benedict Michael, menjelaskan bahwa meski angka kasus TBE terus merangkak naik secara global dalam 30 tahun terakhir, kasus komplikasi berat seperti yang dialami Victoria tergolong langka.

“Sekitar 97 persen orang yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala atau hanya flu ringan. Hanya 3 persen yang berkembang menjadi infeksi otak parah. Hal ini sangat krusial karena sampai detik ini kita belum memiliki obat antivirus yang efektif untuk TBE. Penanganan medis sejauh ini hanya berfokus menjaga keselamatan pasien dan meredakan kejang,” terang Prof. Michael.

Wajib Vaksin Sebelum Plesiran ke Daerah Endemik

Mengingat belum ada obat penawarnya, langkah pencegahan menjadi benteng utama. Para pakar kesehatan menegaskan bahwa infeksi TBE sebenarnya dapat dihindari sepenuhnya melalui pemberian vaksinasi.

Victoria sendiri mengaku sama sekali tidak pernah mendengar informasi soal keberadaan vaksin TBE sebelum musibah ini menimpanya. Belajar dari pengalaman pahit tersebut, kini ia aktif mengedukasi para mahasiswa di Universitas Bangor agar masyarakat lebih waspada saat beraktivitas di alam terbuka.

Guna mengantisipasi risiko serupa, badan kesehatan Public Health Wales (PHW) membagikan sejumlah panduan aman bagi warga yang hendak berlibur ke daerah endemik kutu di Eropa:

  • Vaksinasi TBE: Lakukan suntik vaksin minimal satu bulan sebelum berangkat ke lokasi berisiko (tersedia di klinik kesehatan perjalanan).
  • Pakaian Tertutup: Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang saat beraktivitas di area hutan, semak-semak, atau dekat hewan ternak.
  • Gunakan Antiserangga: Oleskan cairan penolak serangga yang mengandung formula DEET pada bagian kulit yang terbuka.
  • Cek Tubuh Berkala: Selalu periksa lipatan kulit, pakaian, dan hewan peliharaan seusai berkegiatan di luar ruangan.
  • Lepas Kutu dengan Benar: Jika menemukan kutu menempel di kulit, segera cabut menggunakan pinset berujung halus secara perlahan untuk meminimalkan risiko penularan virus.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang