Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri menduga kuat adanya praktik kartel yang menyebabkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sempat anjlok beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut membuat petani sawit mengalami kerugian besar.
Kepala Satgas Pangan Polri, Brigjen Ade Safri Simanjuntak, mengatakan dugaan permainan kartel menguat karena harga TBS sawit mengalami penurunan di saat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia justru cenderung naik. Ada anomali yang diduga bukan kebetulan, melainkan permainan kartel di sektor CPO.
“Jadi, kami menduga adanya indikasi kuat kartel atau persekongkolan jahat, persekongkolan diam-diam yang dilakukan untuk menyepakati harga TBS turun. Di saat harga CPO dunia tidak turun, bahkan cenderung naik,” kata Ade Safri di Jakarta, dikutip Selasa (9/6/2026).
Atas temuan tersebut, Satgas Pangan Polri berencana menggandeng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk membongkarnya. Pasalnya, permainan harga ini diduga menyebabkan kerugian besar yang harus ditanggung petani sawit.
“Koordinasi dengan KPPU dilakukan baik di tingkat pusat maupun daerah guna mengusut pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kesepakatan penetapan harga,” ungkapnya.
Ade menegaskan, Satgas Pangan Polri tidak akan ragu mengambil langkah hukum apabila ditemukan bukti adanya pelanggaran aturan persaingan usaha maupun tindak pidana lain yang terkait.
“Kami tidak akan segan untuk melakukan penegakan hukum secara tegas sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Kami akan menggandeng KPPU baik di tingkat pusat maupun di tingkat wilayah nantinya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengawasan terhadap tata niaga sawit menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kesejahteraan petani sekaligus mendukung daya saing komoditas strategis Indonesia di pasar global.
Ade berharap seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok industri sawit dapat mendukung program pemerintah dan menghindari praktik-praktik yang berpotensi merugikan masyarakat.
“Kami berharap semua program pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan daya saing komoditas kita di dunia internasional bisa mendapat dukungan dari semua pihak,” ucap Ade.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung mengeluhkan anjloknya harga TBS sawit menjadi Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram. Terjadi penurunan harga rata-rata sebesar Rp600 hingga Rp1.500 per kilogram.
“Petani swadaya sekarang itu ada yang tinggal Rp1.800 sampai Rp2.200 per kilogram. Padahal HPP kita Rp2.000. Artinya petani sudah nombok,” kata Gulat usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, petani sawit swadaya menjadi kelompok yang paling terdampak dalam anjloknya harga TBS. Apalagi mereka tidak memiliki kepastian kontrak pembelian seperti petani plasma atau petani mitra. Saat ini, harga TBS petani plasma masih berada di kisaran Rp3.600 per kilogram.
“Kalau petani bermitra masih ada perlindungan karena diatur dalam Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Yang paling terpuruk itu petani swadaya, sementara luas kebun petani swadaya mencapai 93 persen dari total kebun sawit rakyat,” ujarnya.









