Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un mengklaim bahwa kapasitas produksi material nuklir untuk keperluan persenjataan di negaranya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Hal tersebut disampaikan Kim saat meninjau langsung fasilitas produksi material nuklir yang baru saja mulai beroperasi, sebagaimana dilaporkan oleh media pemerintah setempat, Kamis (4/6/2026).
Dalam kunjungannya yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026), menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea Utara KCNA, Kim menerima penjelasan perinci mengenai rencana produksi jangka panjang fasilitas tersebut. Ia pun menyerukan penguatan kekuatan nuklir Korea Utara dengan laju yang disebutnya ‘eksponensial’.
Foto-foto yang dipublikasikan secara bersamaan—tanpa mengungkap lokasi spesifik fasilitas—memperlihatkan pabrik baru tersebut telah dilengkapi oleh deretan mesin sentrifugal dalam jumlah besar yang digunakan untuk memperkaya uranium.
Tegaskan Status Negara Pemilik Senjata Nuklir
KCNA mengutip pernyataan Kim Jong-un yang menyebut bahwa ‘ancaman potensial dan krisis jangka panjang yang tidak dapat diprediksi semakin menegaskan kepentingan serta tanggung jawab misi bersejarah untuk memperkuat kemampuan penangkal perang nuklir, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, secara berkelanjutan dan dipercepat’.
Ia menambahkan, negara wajib hukumnya ‘untuk terus memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir nasional, yang menjadi poros dalam pelaksanaan strategi pencegahan dan kesiapan perang itu sendiri, sekaligus menegaskan status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir’.
Dalam foto lain yang dirilis KCNA, terdapat sebuah grafik yang memperlihatkan suatu objek diletakkan di atas meja di dalam ruang rapat tempat Kim berada. Surat kabar Korea Selatan, Chosun Ilbo, melaporkan bahwa objek yang sengaja diburamkan dalam foto resmi KCNA tersebut diduga kuat merupakan jenis baru hulu ledak nuklir.
Sebelumnya pada awal tahun ini, Kim berjanji untuk mempertahankan status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir dan menyebut tetangganya, Korea Selatan, sebagai negara yang ‘paling bermusuhan’.
Misteri Lokasi Fasilitas Baru
Pada September 2025 lalu, Kim juga sempat melontarkan pernyataan bahwa Pyongyang dapat membuka kembali pintu perundingan dengan Amerika Serikat (AS), dengan syarat Washington tidak lagi menuntut denuklirisasi Korea Utara.
Langkah inspeksi ini bukan yang pertama, mengingat KCNA sebelumnya juga sempat melaporkan kunjungan Kim ke fasilitas produksi material nuklir dan Institut Senjata Nuklir pada Januari 2025 silam.
Terkait peta persebaran nuklir Pyongyang, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada Juni tahun lalu mengindikasikan bahwa Korea Utara tengah membangun fasilitas baru pengayaan uranium di wilayah Yongbyon, bagian barat laut negara itu. Fasilitas tersebut dilaporkan memiliki karakteristik serupa dengan fasilitas pengayaan yang sudah eksis di Kangson, dekat Pyongyang.
Selain Yongbyon dan Kangson, Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, juga mengendus adanya fasilitas pengayaan uranium lain di Kusong, wilayah barat laut Korea Utara. Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, menganalisis bahwa dalam kunjungan kali ini, Kim kemungkinan besar menyambangi fasilitas baru yang sama sekali berbeda dari ketiga lokasi yang sudah terdeteksi tersebut.
Dalam inspeksi rahasia itu, Kim terpantau didampingi oleh sejumlah pejabat senior dari Departemen Industri Persenjataan Partai Buruh Korea dan Institut Senjata Nuklir.
Namun, ada hal menarik yang tertangkap kamera. Sosok Hong Sung-mu, Wakil Direktur Pertama Komite Sentral Partai Buruh Korea yang selama ini diyakini sebagai salah satu otak sekaligus tokoh utama dalam pengembangan senjata nuklir Korea Utara, justru tidak terlihat sama sekali dalam deretan foto yang dirilis kepada publik.










