Warga Wanam Angkat Fakta: Tak Ada Pengungsi, Pembangunan PSN Justru Diharapkan!

Icon_INILAH GOLD.png

Kamis, 4 Juni 2026 – 17:00 WIB

Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Inosensio Sigipse menyampaikan keterangan di Wanam, Kamis (4/6/2026). (Foto: Inilah.com/ Wahyu Praditya P)

Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Inosensio Sigipse menyampaikan keterangan di Wanam, Kamis (4/6/2026). (Foto: Inilah.com/ Wahyu Praditya P)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Narasi negatif tak berdasarkan fakta di lapangan dari sutradara film dokumenter “Pesta Babi”, Dandhy Dwi Laksono, yang menuding adanya eksodus warga hingga ratusan ribu orang akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) di Wanam, Papua Selatan, dibantah langsung oleh masyarakat setempat. Warga menegaskan tidak pernah terjadi pengungsian, dan justru berharap pembangunan PSN food estate Wanam terus dilanjutkan.

Berdasarkan temuan di lapangan, berbagai klaim yang beredar dinilai tidak sesuai dengan kondisi nyata. Aktivitas pembukaan lahan yang saat ini berjalan disebut masih terbatas, sekitar 15 ribu hektare, dan difokuskan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, kilang minyak, hingga fasilitas penyimpanan (cold storage).

Luas kawasan PSN Wanam juga disebut tidak sebesar yang dinarasikan. Informasi yang menyebut angka hingga 2,5 juta hektare tidak sesuai, karena total kawasan diperkirakan sekitar 1 juta hektare.

Selain itu, isu eksodus warga hingga 170 ribu orang tidak ditemukan di lapangan. Warga yang ditemui memastikan tidak ada perpindahan massal seperti yang dituduhkan.

Sementara terkait alat berat, meski sempat disebut ada pesanan hingga 2.000 unit ekskavator, realisasi di lapangan saat ini baru mencapai ratusan unit.

Di tengah berbagai isu tersebut, suara warga lokal justru menunjukkan harapan terhadap pembangunan. Inosensio Sigipse, contohnya. Petani yang telah 10 tahun menetap di Wanam itu, mengaku mendukung proyek PSN. Ia berharap pembangunan dapat mempermudah akses dan meningkatkan perekonomian warga.

“Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan. Supaya kita jual hasil tani lebih gampang,” kata pria yang akrab disapa Papa Inos ini saat ditemui di Wanam, Kamis (4/6/2026).

Ia menggambarkan kondisi ekonomi warga yang masih sulit, dengan hasil pertanian yang tidak selalu terserap pasar. Kehadiran proyek diharapkan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

“Kalau ada pekerjaan di sana, kita yang nganggur bisa kerja juga,” ujar dia.

Hal senada disampaikan Kleopas Mause, seorang guru sekaligus Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) di Wanam. Ia menegaskan masyarakat sejak awal menerima kehadiran PSN karena dinilai membawa perubahan, meski belum sepenuhnya merata.

Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Kleopas Mause, menyampaikan keterangan di Wanam, Kamis (4/6/2026). (Foto: Inilah.com/ Wahyu Praditya P)

“Sekarang masyarakat sudah mulai terlibat kerja. Memang belum 100 persen, tapi sudah ada perubahan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kebutuhan mendesak masyarakat terhadap infrastruktur dasar.

“Masyarakat masih jalan kaki bawa hasil ke perusahaan. Harapannya ada jalan yang layak sampai kampung, supaya hidup bisa lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Laurentius Gali Blagaise, tokoh dusun setempat, menilai pembangunan memberikan dampak positif, meski di awal sempat menimbulkan kekhawatiran.

Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Laurentius Gali Blagaise menyampaikan keterangan di Wanam, Kamis (4/6/2026). (Foto: Inilah.com/ Wahyu Praditya P)

“Kalau saya lihat perubahan ini sudah bagus sekali. Masyarakat lokal juga sudah ada yang ikut kerja,” ungkap Papa Lau.

Ia mengakui masih ada warga yang belum terserap tenaga kerja, namun peluang ke depan dinilai tetap terbuka. “Masih banyak anak muda yang mau kerja. Harapannya bisa mengurangi pengangguran,” tambahnya.

Menurut Laurentius, pembangunan di Wanam diharapkan dapat mendorong kemajuan daerah agar tidak tertinggal. “Kita mau Wanam bisa maju ke depan, sedikit demi sedikit lebih baik,” tuturnya.

Dari berbagai keterangan tersebut, terlihat bahwa kondisi di Wanam jauh dari narasi eksodus atau krisis. Sebaliknya, masyarakat justru menaruh harapan besar pada pembangunan, terutama dalam hal peningkatan infrastruktur, lapangan kerja, dan perputaran ekonomi lokal.

Sebelumnya, sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, menuding luas lahan PSN food estate Wanam seluas 2,5 juta hektare dan ratusan ribu orang mengungsi akibat pembangunan PSN tersebut. 

Padahal faktanya pembukaan lahan baru 15 ribu hektare untuk jalan, jembatan, pelabuhan, solar panel, kilang minyak, dan cold storage hingga saat ini. Adapun ⁠luas lahan PSN Wanam 1 juta hektare, bukan 2,5 juta hektare. Selain itu, tidak ada eksodus pengungsi sama sekali dari tuduhan 170 ribu orang, serta ⁠pesanan ekskavator sebanyak 2000 unit, tapi realisasi di lapangan baru ratusan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang