Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA/Imamatul Silfia).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/6/2026), nyungsep 254,36 poin, setara 4,11 persen ke level 5.941,07. Tersungkur hingga di bawah level psikologis 6.000.
Meski sudah babak belur, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa masih optimistis IHSG mampu berbalik menguat. Karena, didukung solidnya fundamental perekonomian. “Saya yakin (IHSG) akan naik lagi, karena fondasi ekonomi bagus,” kata Purbaya di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Namun, Purbaya tidak membidik target khusus level IHSG pada tahun ini. Namun, berbagai indikator perekonomian bisa mendorong IHSG kembali ke zona hijau. Salah satunya adalah inflasi pada Mei 2026, sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini masih dalam rentang target Bank Indonesia (BI) yakni 2,5 plus-minus 1 persen.
Purbaya menilai, gejolak IHSG pada saat ini, bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Padahal, kata dia, permintaan domestik masih menunjukkan kinerja yang stabil.
Dia berpendapat daya beli masyarakat masih kuat yang terlihat dari ramainya aktivitas publik, baik di Jakarta maupun daerah, serta permintaan terhadap kebutuhan tersier, misalnya tempat hiburan dan hotel.
Kinerja perekonomian yang baik juga disebut terlihat pada realisasi penerimaan pajak. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan penerimaan pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh 16,1 persen dibandingkan realisasi 2025 senilai Rp556,9 triliun.
“Jangan takut. Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, nggak ada masalah,” ujar Purbaya.
Ketika IHSG ditutup melemah 5.941,07, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ikut turun 30,28 poin, atau 4,89 persen ke posisi 588,99.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut, sentimen IHSG disebabkan investor mencermati tata kelola dan kredibilitas kebijakan Indonesia.
Liza memaparkan, setidaknya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor. Di antaranya terkait tata kelola dan kredibilitas kebijakan atau governance and policy credibility seusai outlook negatif dari Moody’s dan Fitch Rating, dan tekanan kurs rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Kemudian, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, dana asing keluar (foreign outflow) yang terus berlanjut, serta yang paling penting belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












