Ramalan S&P Global Ratings Bikin Ngeri Asia Tenggara, Tutup Mata untuk Indonesia

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 15 April 2026 – 21:42 WIB

Logo S&P Global terpampang di kantornya di kawasan keuangan di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: ANTARA/Reuters/Brendan Mcdermid).

Logo S&P Global terpampang di kantornya di kawasan keuangan di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: ANTARA/Reuters/Brendan Mcdermid).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lembaga pemeringkat dunia yang cukup kredibel, S&P Global Ratings memberikan peringkat surat utang Indonesia paling rentan di kawasan Asia Tenggara. Risiko ini meningkat seiring lonjakan harga energi dan terbatasnya bantalan fiskal.

Dalam laporan terbarunya, dikutip Rabu (15/4/2026), S&P menyebut tekanan terhadap sovereign rating, atau kemampuan suatu negara dalam memenuhi kewajiban utangnya di Asia Tenggara berpotensi meningkat apabila konflik di Timur Tengah (Timteng) berkepanjangan.

Indonesia dinilai berada di posisi paling berisiko, terutama karena bantalan fiskalnya relatif lebih tipis dibandingkan negara setara di kawasan. “Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat utang Indonesia akan lebih rentan jika konflik berlarut-larut,” tulis S&P Global Ratings.

S&P menjelaskan, harga energi global diprediksi melonjak, sehingga meningkatkan beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah. Kondisi ini berpotensi menekan ruang fiskal. Pada saat yang sama, kenaikan biaya impor minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.

Tekanan juga datang dari sisi inflasi yang berpotensi meningkat lebih cepat. Situasi ini dapat mendorong kenaikan suku bunga pasar, atau imbal hasil (yield) dari Surat Berharga Negara (SBN), yang pada akhirnya meningkatkan biaya utang pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, Malaysia dinilai memiliki posisi yang relatif lebih kuat dalam menghadapi guncangan energi global. Meski beban subsidi dan defisit anggaran berpotensi meningkat, kedalaman pasar keuangan serta pertumbuhan ekonomi yang solid dinilai mampu meredam tekanan.

“Penurunan kinerja fiskal yang bersifat sementara, atau kenaikan moderat dalam rasio utang, kecil kemungkinan memicu aksi penurunan peringkat,” tulis S&P dalam laporannya.

Sementara itu, Thailand diperkirakan menghadapi risiko perlambatan ekonomi dan penyempitan ruang fiskal. Meski demikian, negeri Gajah Putih itu masih memiliki fondasi kredit yang kuat, termasuk kebijakan moneter dan kondisi eksternal yang solid untuk menahan tekanan.

Vietnam dinilai masih memiliki bantalan finansial yang cukup kuat. Namun, lonjakan biaya impor energi yang berkepanjangan, serta potensi penurunan cadangan devisa, dapat melemahkan likuiditas eksternal.

Dalam skenario dasar, S&P memperkirakan intensitas konflik terkait Iran akan mencapai puncaknya, dan potensi penutupan efektif Selat Hormuz akan mereda pada April ini. Namun, gangguan di pasar energi global diperkirakan masih berlanjut selama beberapa bulan ke depan akibat kerusakan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

S&P memperkirakan harga minyak mentah jenis Brent rata-rata akan berada di level US$85 per barel hingga sisa tahun 2026. Kondisi ini berpotensi memberi tekanan berkepanjangan bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.

Rasa-rasanya, peringatan S&P Global Ratings perlu mendapat atensi yang serius dri pemerintah. Karena sangat memengaruhi nasib rating surat utang Indonesia. Dan, tentu saja berdampak kepada nilai tukar. Apalagi saat ini, rupiah sudah ambruk hingga ke level Rp17.100-an per dolar AS. 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang