Ketua Umum Asaki Edy Suyanto. (Foto: ANTARA/A Muzdaffar Fauzan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Imbas penutupan Selat Hormuz buntut perang Iran yang dikeroyok Zionis Israel yang berkolaborasi dengan AS, pasokan gas dunia berpeluang terganggu. Hal ini membuat ketar-ketir industri yang menggantungkan produksi dari gas. Termasuk industri keramik bakal kesulitan.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki),
Edy Suyanto berharap, pemerintah memproritaskan pasokan gas ke dalam negeri, atau domestic market obligation (DMO).
Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan industri keramik yang terbukti berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“Kebijakan tersebut (DMO) sangat dibutuhkan mengingat industry keramik tengah menghadapi tekanan berlapis. Mulai gangguan pasokan gas, lonjakan biaya energi, serta meningkatnya tekanan impor,” beber Edy, Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Berdasarkan data Asak, lanjut Edy, tingkat utilisasi industri keramik di kuartal I-2026, hanya berada di kisaran 70-72 persen. Meleset dari target utilisasi sebesar 80 persen.
“Gangguan suplai gas ini sangat berdampak langsung terhadap operasional pabrik dan produktivitas industri,” ujar Edy.
Dalam kondisi tersebut, Asaki menegaskan pentingnya kebijakan DMO gas bumi agar pasokan energi bagi industri dalam negeri lebih terjamin.
Selain itu, pengurangan porsi ekspor gas dinilai perlu dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Gas bumi seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan industri dalam negeri yang memiliki multiplier effect besar, seperti penyerapan tenaga kerja dan mendorong investasi baru,” tegasnya.
Di sisi lain, kata dia, dinamika global juga menambah tekanan, mengingat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, terutama bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional saat ini telah mencapai 650 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi produksi yang diperkirakan mencapai 73 persen pada 2025, serta menyerap 150 ribu tenaga kerja.
Kinerja positif industri keramik nasional sejalan dengan capaian sektor industri manufaktur, yang masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Sepanjang triwulan I hingga III-2025, industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 5,17 persen dan berkontribusi 17,27 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Dari sisi perdagangan, IPNM menyumbang 80,27 persen terhadap total ekspor nasional, serta menyerap tenaga kerja hingga 20,26 juta orang. Kemenperin meyakini industri keramik domestik bisa menjadi produsen besar empat dunia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













