Garuda Dapat Suntikan Dana Jumbo, Pengamat: Bakal Sia-sia Tanpa Restrukturasi secara Radikal

Diana Medium.jpeg

Jumat, 20 Maret 2026 – 19:20 WIB

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita. (Foto: Dok. Pribadi)

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita. (Foto: Dok. Pribadi)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Rapor merah yang kembali menghiasi pembukuan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) sepanjang 2025 menjadi sinyal kuat bahwa ada yang salah di jantung bisnis maskapai pelat merah ini. Meski telah mendapat “darah segar” senilai Rp23,7 triliun dari Danantara, Garuda dinilai belum benar-benar lepas dari ICU finansial.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita memberikan penilaian menohok. Menurutnya, kegagalan Garuda untuk bangkit bukan semata masalah ‘kurang modal’, melainkan struktur bisnis yang sudah lama tidak sehat.

Ia mengibaratkan kondisi Garuda saat ini seperti seorang pasien yang terus-menerus diberikan transfusi darah, namun pendarahan internalnya tidak pernah dihentikan.

“Garuda masih menanggung biaya tetap yang tinggi, mulai dari leasing pesawat, maintenance, hingga beban utang lama hasil restrukturisasi yang belum sepenuhnya beres. Ini yang terus mengganggu arus kas,” ujar Ronny kepada Inilah.com di Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Lima Penyakit Struktural Garuda

Ronny memetakan setidaknya lima faktor berlapis yang membuat Garuda terus mencatatkan kerugian. Pertama, struktur biaya yang tidak kompetitif akibat kontrak leasing lama yang tidak efisien. Kedua, adanya ketidakcocokan (mismatch) antara model bisnis full-service dengan pasar domestik Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga.

Ketiga, yield atau imbal hasil yang turun karena kompetisi ketat, sehingga margin perusahaan terjepit. Keempat, utilisasi aset yang belum optimal meski pandemi telah berlalu. Terakhir, isu tata kelola (governance) yang sering kali lebih berorientasi pada kepentingan politis ketimbang efisiensi ekonomi.

“Modal dari Danantara kemungkinan besar hanya dipakai untuk menutup kewajiban jangka pendek dan menjaga likuiditas. Ini bukan transformasi fundamental, tapi sekadar menunda krisis,” tambahnya.

Tiga Opsi Pahit: Restrukturisasi Radikal atau Turun Kelas?

Untuk menyembuhkan ‘penyakit’ menahun ini, Ronny menawarkan tiga solusi radikal yang mungkin terasa pahit bagi manajemen. Pertama, melakukan restrukturisasi ulang secara agresif, termasuk renegosiasi kontrak leasing dan pemangkasan rute-rute yang tidak menghasilkan cuan tanpa kompromi.

Kedua, reposisi model bisnis. Garuda harus memilih: tetap menjadi maskapai full-service yang eksklusif namun lebih kecil, atau turun kelas agar lebih kompetitif. Ketiga, perbaikan total pada aspek tata kelola.

“Tanpa disiplin komersial yang mengutamakan efisiensi di atas sekadar prestige nasional, suntikan modal sebesar apa pun hanya akan memperpanjang napas, bukan menyembuhkan penyakitnya,” pungkas Ronny.

Potret Buram GIAA 2025

Kritik tajam ini sejalan dengan data keuangan GIAA yang menunjukkan kemunduran signifikan. Rugi bersih perusahaan melonjak 4,5 kali lipat menjadi US$322,4 juta. Pendapatan pun menyusut 5,85 persen menjadi US$3,21 miliar, sementara beban keuangan justru mendaki 9,56 persen.

Di pasar modal, performa GIAA pun belum menggembirakan. Secara year-to-date (YTD), harga saham maskapai pembawa bendera ini telah terkoreksi lebih dari 28 persen. 

Dengan kepemilikan saham pemerintah mencapai 91,11 persen melalui Danantara, tantangan besar kini ada pada keberanian untuk melakukan bedah total terhadap struktur bisnis Garuda.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang