Didampingi Raja Jawa, Menkeu Purbaya Borong Batik Tulis di Pasar Beringharjo

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 17 Maret 2026 – 19:43 WIB

Didampingi Raja Jawa, Menkeu Purbaya Borong Batik Tulis di Pasar Beringharjo

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Di sela pening mikirin APBN 2026 yang terancam defisit besar akibat melonjaknya harga minyak dunia, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyambangi Pasar Beringharjo di DI Yogyakarta. Tak main-main, Purbaya didampingi Sri Sultan Hamengkubuwono X, sang Raja Jawa.

Saat berada di pasar tradisional yang dikenal sebagai sentra batik itu, Purbaya disambut hangat para pedagang. Beberapa kali, pria tegap nan tinggi itu, melambaikan tangan. Menyapa para pedagang serta pembeli yang hadir di situ.  

Usai berdialog, Purbaya memborong kain batik untuk koleksi pribadinya. Tentu saja, motif batiknya dipilih yang ciamik. “Ini, satu, ya, yang ini satu, iki piro mbak? Iki piro?” ucap Purbaya sambil menunjuk batik tulis berkelas yang membuatnya kepincut.

“Kalau yang Itu Rp1.050,000, nanti potong buntutnya aja,” kata si pedagang.

Ternyata, Purbaya paham betul jika harga batik tulis memang agak mahal ketimbang batik cap atau sablon yang banyak dijual. Tak perlu menunggu lama, Purbaya langsung mengambil beberapa kain batik yang bernuansa cokelat.

Saat ditanya mengenai harga batik tulis yang mencapai lebih dari Rp1 juta per potong, Purbaya menyebut sangatlah wajar. Karena proses pembuatan batik tulis cukup rumit dan memerlukan keahlian khusus. “Rp1 juta sedenglah untuk batik tulis. Itu ngebatiknya berapa hari? Capek,” ujar Purbaya.

Selanjutnya Purbaya mengungkap alasan kenapa tertarik membeli batik tulis berwarna cokelat yang memang penampilannya cukup berkelas. Katanya, untuk meningkatkan penampilan sebagai menkeu.

Karena warganet sempat menyebut Purbaya terlalu sering mengenakan batik berwarna biru. “Katanya (warganet), saya batiknya itu-itu saja, biru. Makanya mau kita ganti supaya enggak biru terus. Ini batik baru entar, ambil lima saja deh,” tuturnya.

Selain untuk koleksi pribadi, Purbaya mengaku akan membagikan batik tulis ‘oleh-oleh’ dari Pasar Beringharjo ini, kepada keluarganya. Usai blusukan pasar, dia menepis anggapan bahwa pasar tradisional mengalami mati suri akibat melemahnya daya beli masyarakat.

“Saya melihat denyut pasar masih hidup. Kalau saya lihat, saya ke Tanah Abang ramai, di sini (Beringharjo) ramai, di tempat lain juga Bandung saya tanya orang-orang ramai, outlet-outlet ramai. Jadi kelihatannya nggak semati suri yang dibilang oleh para pengamat itu,” ujarnya.

Purbaya menambahkan bahwa omzet di Pasar Beringharjo tergolong sangat tinggi dan kondisi keramaian pasar menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih dalam tahap yang baik, meskipun memang belum sepenuhnya maksimal pasca-perlambatan ekonomi beberapa waktu lalu.

“Dan ini cukup banyak orang di sini, jadi seharusnya sih daya beli masih cukup baik. Mungkin belum sekuat yang diinginkan, tapi cukup baik lah, ke depan akan lebih bagus lagi,” tandasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang