Tampilan Shinta Widjaja saat menghadiri pembukaan the Fourth International Forum on Financing for Development (#FFD4) di kota Sevilla (Foto: Instagram / shintawidjajakamdani)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ketar-ketir melihat masa depan bisnisnya semakin gelap dengan berlangsungnya peran Iran yang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan zionis Israel.
Karena, konflik ini dikhawatirkan berjalan lama dan meluas di Timur Tengah, yang berdampak kepada ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Khususnya soal melambungnya harga energi yang sangat dikhawatirkan pengusaha.
Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani menyoroti harga minyak mentah (crude oil) dunia yang sempat di atas US$100 per barel, meski kini turun. “Level tersebut yang tertinggi lebih dari tiga tahun terakhir, sejak konflik Rusia–Ukraina pada 2022,” papar Shinta, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 42 persen, sedangkan dalam satu bulan terakhir meningkat lebih dari 64 persen. “Lonjakan yang sangat tajam dalam waktu singkat seperti ini menciptakan tekanan biaya yang signifikan bagi sektor usaha,” kata Shinta.
Shinta menyampaikan, kenaikan harga energi mulai dirasakan pelaku usaha di Indonesia, terutama melalui peningkatan biaya produksi dan logistik.
Lonjakan harga minyak, lanjutnya, menjadi tekanan biaya atau cost-push pressure di berbagai sektor industri. Mulai dari manufaktur, transportasi, logistik, hingga sektor agribisnis dan perikanan.
“Bagi banyak perusahaan, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi pada transportasi dan energi, kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, jelas membuat biaya operasional atau produksi, naik,” ujarnya.
Shinta menambahkan sebagian pelaku usaha saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga produk atau jasa untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas permintaan.
Namun dalam praktiknya, dia menyampaikan perusahaan perlu mempertimbangkan mekanisme price pass-through, yakni sejauh mana kenaikan biaya input dapat diteruskan ke harga jual tanpa mengganggu permintaan pasar.
Sejumlah sektor bahkan mulai mempertimbangkan penyesuaian tarif atau harga produk secara selektif, terutama jika tekanan biaya berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
“Banyak perusahaan juga melakukan efisiensi internal, termasuk optimalisasi penggunaan energi, penyesuaian rute logistik, hingga renegosiasi kontrak dengan pemasok,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













