Update kurs Rupiah 19 Januari 2026: Rupiah melemah ke Rp16.955 per dolar AS. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar (kurs) rupiah di pasar spot, terhempas ke level psikologis Rp17.000 per dolar AS (US$), selanjutnya menguat tipis Rp16.949/US$ saat penutupan perdagangan Senin (9/3/2026). Mengalami tekanan 0,14 persen.
Sementara di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda bertengger di posisi Rp16.974/US$. Atau terdepresiasi 0,32 persen dibandingkan akhir pekan lalu yang ditutup Rp16.919/US$.
“Indeks dolar AS memang menguat pada perdagangan Senin, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga energi dunia,” kata pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Menguatnya indeks dolar AS ini, kata Ibrahim, turut menekan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Dari sisi eksternal, harga minyak dunia melonjak hingga 30 persen yang bertengger US$113 per barel, mendekati level tertinggi yang pernah terjadi saat awal konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
“Harga minyak melonjak 30 persen, jauh di atas 100 dolar AS per barel, ini mendekati level tertinggi yang pernah terjadi di awal perang Rusia-Ukraina pada 2022,” ucap Ibrahim.
Lonjakan harga minyak ini, menurut Ibrahim, dipicu serangan udara yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah fasilitas minyak Iran pada akhir pekan lalu. Kemudian, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah.
“Serangan udara Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,” kata Ibrahim.
Ketegangan ini, kata dia, terus meningkat setelah Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Jalur pelayaran energi strategis yang menjadi salah satu sumber pasokan minyak utama bagi negara-negara di Asia.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pasokan minyak global, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama.
Situasi geopolitik memanas setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei, menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Ali Khamenei terbunuh dalam serangan udara AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Penunjukan Mojtaba ini, menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran. Selain faktor geopolitik, pasar global juga mencermati perkembangan ekonomi di Asia.
Data pemerintah China menunjukkan, inflasi yang dicermati indeks harga konsumen (CPI) China mengalami pertumbuhan 1,3 persen secara tahunan, pada Februari 2026. Atau lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun terakhir.
“Di Asia, inflasi indeks harga konsumen China tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari, menurut data pemerintah. Lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 0,9 persen. Ini tercepat dalam tiga tahun,” beber Ibrahim.
Dari sisi domestik, lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan hebat terhadap fiskal Indonesia. Harga minyak yang menembus US$113 per barel, menjadi tertinggi sejak 2020 dan jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan US$70 per barrel.
Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat sekitar Rp6,8 triliun tiap selisih US$1 dolar dari asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel.
Dikhawatirkan, rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) mendekati 4 persen. Atau melewati ambang batas 3 persen yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
“Salah satu penyebab lonjakan harga energi adalah terganggunya jalur minyak global di Selat Hormuz, yang merupakan choke point sekitar 20 persen pasokan minyak dunia,” bebernya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













