Pesawat Airbus A319 milik Maskapai American Airlines. (Foto: planespotter.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Segala jenis bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan pascapenutupan Selat Hormuz, buntut penyerangan brutal AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Termasuk harga avtur, bahan bakar pesawat yang membuat maskapai penerbangan AS mulai ‘batuk-batuk’.
Melansir Bloomberg, Sabtu (7/3/2026), belanja avtur menyumbang hingga 30 persen dari total biaya yang harus ditanggung maskapai. Saat ini, harga avtur mencapai US$4 per galon, atau naik 100 persen dari harga sebelumnya US$2 per galon.
Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah kira-kira gambaran dari maskapai negeri Paman Sam. Ketika beban belanja avtur naik 100 persen, mereka juga menghadapi penurunan permintaan perjalanan. Buntut penerapan tarif ‘Liberation Day’ atau tarif resiprokal yang ditetapkan Presiden Donald Trump.
Dengan ditetapkannya ‘Liberatiom Day’ itu, membuat harga barang di AS mengalami kenaikan. Dampaknya, daya beli warga AS ambruk seketika. Kondisi ini membuat mereka harus ketatkan ikat pinggang.
Termasuk menunda atau membatalkan perjalanan jauh, menggunakan pesawat terbang, karena harga tiketnya menguras kantong.
Bisa dibayangkan, banyak maskapai AS yang megap-megap. Karena harus menemukan keseimbangan baru antara menaikkan tarif untuk menutupi bengkaknya biaya akibat avtur. Di sisi lain, maskapai AS harus
Ada tiga maskapai AS yang paling terdampak, yakni American Airlines Group Inc, JetBlue Airways Corp dan Spirit Aviation Holdings Inc. Ketiganya dikenal sebagai maskapai yang melayani rut-rute domestik.
Analis Rothschild, James Goodall menyebut American Airlines sebagai maskapai yang paling parah. Setiap kenaikan 10 sen dolar AS untuk belanja avtur per galon, berdampak kepada fluktuasi 25 persen laba per saham maskapai.
“Harga bahan bakar yang lebih tinggi mengakibatkan pemotongan signifikan pada perkiraan kami dan ekspektasi penurunan substansial pada konsensus tahun ini,” tuturnya.
Pihak American Airlines Group Inc, JetBlue Airways Corp, dan Spirit Aviation Holdings Inc, menolak berkomentar tentang dampak kenaikan harga avtur. Tarif ‘Liberation Day’ yang diumumkan Trump pada April 2025, memicu anjloknya permintaan perjalanan dalam porsi yang signifikan.
Prediksi optimistis di awal tahun 2026, secara cepat berubah menjadi pesimistis, mendorong beberapa maskapai memperbaiki rencana belanja yang telah disusun dalam laporan keuangan.
Kini, kenaikan biaya avtur dan potensi penurunan minat orang untuk terbang jarak jauh, membuat bisnis maskapai di AS harus menghadapi masalah serius. Yang gagal tak ada pilihan. Gulung tikar.
Analis Citi, John Godyn menyebutkan, maskapai dengan margin yang lebih tinggi, paparan biaya bahan bakar yang lebih rendah, dan dampak meredam dari program pembagian keuntungan yang besar, menjadi yang lebih siap dalam menghadapi guncangan tersebut.
Dia mencatat, Delta Air Lines dan United Airlines Holdings Inc, adalah maskapai yang melihat tren penumpang berpendapatan tinggi, terus berbelanja. Meski, konsumen yang lebih hemat mulai mengurangi pengeluaran.
Tantangan ini, memberikan perusahaan memiliki lebih banyak ruang untuk menaikkan harga tiket. Sayangnya, hal itu mungkin tidak berlaku untuk 3 maskapai tadi. Yakni, Spirit Airlines, JetBlue hingga American Airlines yang kini mulai ngos-ngosan mengejar ketertinggalan dari United dan Delta.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













