Pemandangan umum menunjukkan fasilitas minyak Saudi Aramco di kota Dammam, 450 km sebelah timur ibu kota Saudi, Riyadh, 23 November 2007. (Foto: AFP)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pemerintah Indonesia memutuskan mengalihkan sebagian impor liquefied petroleum gas (LPG) dari kawasan Timur Tengah ke negara lain yang tidak melalui Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil menyusul eskalasi konflik di kawasan tersebut yang berdampak pada operasional kilang milik Saudi Aramco, Arab Saudi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan dinamika ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi pasokan energi, termasuk dari Saudi Aramco.
“Dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco. Itu juga kena kemarin dinamika di sana,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Bahlil menyebutkan, sepanjang tahun ini Indonesia mengimpor LPG sebanyak 7,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen berasal dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah.
Pasokan dari Timur Tengah selama ini bersumber dari kilang milik Saudi Aramco.
“Maka, alternatifnya, kami alihkan lagi supaya tidak mengambil risiko. Sebagian kami alihkan untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” ucap Bahlil.
Sebelumnya, laporan Sputnik pada Senin (2/3/2026) menyebutkan adanya pecahan drone yang jatuh di kilang minyak Saudi Aramco di Ras Tanura dan memicu kebakaran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui Turki al-Maliki menyatakan puing dari dua drone yang berupaya menyerang kilang tersebut jatuh di area fasilitas. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada Sabtu (28/2/2026), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu (1/3/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan itu.
Di sisi lain, media Iran melaporkan Selat Hormuz secara efektif telah ditutup menyusul serangan tersebut, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, termasuk ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi jalur tersebut.













