Penutupan Selat Hormuz Ancam APBN, Ekonom: Belanja Negara Berpotensi Jebol Rp515 Triliun

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 1 Maret 2026 – 22:08 WIB

Bhima Yudhistira Adhinegara (Foto: LPDP)

Bhima Yudhistira Adhinegara (Foto: LPDP)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lonjakan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz imbas konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran, berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia secara signifikan.

Ekonom dan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira memproyeksikan, harga minyak mentah (crude oil) dunia, bakal menembus 100 hingga 120 dollar AS per barel, jika konflik AS-Israel dengan Iran, meluas.

Menurut dia, gangguan di Selat Hormuz akan berdampak besar karena jalur tersebut merupakan titik strategis distribusi energi global.

“Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20 persen pasokan minyak dunia. Kondisi diperburuk oleh ditolaknya pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati areal konflik,” ujar Bhima kepada Inilah.com, Minggu (1/3/2026).

Indonesia, ia menambahkan, sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak karena masih berstatus sebagai net importir minyak.

Bhima menjelaskan, berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel di atas asumsi dasar akan menambah belanja negara sebesar Rp10,3 triliun.

“Artinya jika minyak tembus 100 dolar AS sampai 120 dolar AS per barel, maka belanja negara bisa naik hingga Rp515 triliun pada 2026. Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina, dan beban subsidi listrik,” tegas dia.

Bhima menilai lonjakan harga energi akan menciptakan tekanan fiskal yang besar bagi pemerintah, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam membiayai program prioritas lainnya.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menutup jalur vital perdagangan minyak dunia yang terletak di Selatan Iran, yaitu Selat Hormuz.

Penutupan ini sebagai buntut serangan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel yang menewaskan Pimpinan Tinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, pejabat misi Angkatan laut Uni Eropa Apsides mengungkap informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan. Melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, kapal-kapal dilarang melewati kawasan tersebut.