Dampak Serbuan AS-Israel ke Iran, Indef: Ekonomi Indonesia Tertekan dari Empat Penjuru

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 1 Maret 2026 – 19:45 WIB

 Iran menuntut tanggung jawab AS yang dianggap mendukung kejahatan Zionis Israel di Lebanon selatan, serta pembunuhan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah. (Foto: ANTARA/Anadolu/py).

Iran menuntut tanggung jawab AS yang dianggap mendukung kejahatan Zionis Israel di Lebanon selatan, serta pembunuhan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah. (Foto: ANTARA/Anadolu/py).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Serbuan Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran, membawa konsekuensi serius terhadap perekonomian nasional. Harga barang atau inflasi berpeluang naik serta nilai tukar (kurs) rupiah diprediksi melemah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman mengingatkan, perkembangan geopolitik di Timur Tengah (Timteng) bakal menekan perekonomian Indonesia, secara bersamaan.

Fenomena ini tidak hanya sekadar isu geopolitik regional, tetapi shock eksternal bagi negara, emerging market seperti Indonesia. “Mekanisme transmisinya terutama melalui perubahan perilaku investor global,” kata Rizal, Jakarta, Minggu (1/3/2026).

Rizal mengkhawatiran pasar global bakal memasuk fase risk-off yang berdampak kepada perdagangan Indonesia. Sehingga dana portofolio keluar dari emerging market, menuju aset aman.

Dia prediksikan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, bakal terus menguat jika perkembangan geopolitik Timteng semakin rumit. Apalagi jika pemerintah mengerek imbal hasil atau yield SBN (Suku Berharga Negara), justru bakal mengerek naik premi risiko negara. 

“Jadi, tekanan yang muncul lebih karena persepsi risiko global, bukan perubahan fundamental di domestik secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Saluran kedua, lanjutnya, menyangkut sektor energi dan fiskal. Saat ini, Indonesia merupakan net importir minyak, berlaku hukum: setiap kenaikan harga minyak langsung memperlebar defisit neraca migas dan meningkatkan kebutuhan devisa.

Pada saat bersamaan, kata Rizal, pemerintah harus menahan kenaikan harga BBM di dalam negeri tidak naik. Penting untuk menjaga inflasi dan daya beli.

Konsekuensinya, pemerintah harus menanggung kenaikan dana kompensasi serta subsidi energi. “Sehingga ruang fiskal semakin sempit. APBN harus bekerja lebih keras bukan untuk ekspansi ekonomi. Tapi hanya untuk stabilisasi harga,” terangnya.

Rupiah Anjlok

Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: Antara)
Ilustrasi mata uang rupiah dengan dolar AS. (Foto: Antara). 

Dari sisi nilai tukar, Rizal mengungkapkan bahwa tekanan datang dari dua arah sekaligus. Pertama, capital outflow akibat perpindahan portofolio global ke dolar AS. Kedua, meningkatnya permintaan valas domestik untuk impor energi dan bahan baku.

Kombinasi tekanan bertubi-tubi itu, menurutnya, membuat kurs rupiah semakin murah. Mau tak mau, Bank Indonesia semakin sulit untuk menurunkan suku bunga acuan yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Prioritas jangka pendek bergeser, dari mendorong pertumbuhan menjadi sebagai penjaga stabilitas kurs dan inflasi,” imbuhnya.

Untuk perdagangan luar negeri, kata Rizal, efek dari geopolitik Timteng, cenderung asimetris. Artinya, nilai impor energi hampir pasti naik, karena kenaikan harga. Di sisi lain, ekspor belum tentu melonjak, karena konflik akan menekan permintaan global.

“Akibatnya, neraca perdagangan bakal menyempit, manufaktur menghadapi kenaikan biaya produksi, dan pebisnis menjadi wait and see terhadap investasi baru.  “Jadi muncul tekanan yang simultan terhadap inflasi, kurs, fiskal dan kinerja perdagangan. Tekanannya dari empat penjuru,” pungkasnya.