Sepak bola dunia sedang menahan napas. Kick-off Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah ‘panggung terakhir’ dua megabintang, Lionel Messi (39) dan Cristiano Ronaldo (41), sekaligus ujian berat bagi Amerika Serikat (AS) sebagai (salah satu) tuan rumah di tengah tensi politik yang mendidih.
Bagi Messi dan Ronaldo, edisi ke-26 ini adalah Piala Dunia keenam mereka. Messi datang dengan ambisi menyamai rekor Daniel Passarella —mengangkat trofi untuk kedua kalinya— sekaligus mematahkan rekor gol Miroslav Klose. Sementara Ronaldo, sang rival abadi, masih dihantui rasa penasaran luar biasa untuk mencicipi gelar juara dunia demi menyempurnakan portofolio emasnya sebelum gantung sepatu.
Namun, daya tarik di lapangan hijau kali ini harus bersaing ketat dengan dinamika di luar arena.
Sepak Bola yang Terjepit Politik Washington
Diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara, sorotan tajam tertuju pada AS. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dikenal agresif dan kontroversial, turnamen ini berpotensi menjadi panggung persinggungan politik yang panas.
Trump belakangan kerap mengusik sekutu maupun lawan, mulai dari isu tarif dengan Kanada hingga ketegangan nuklir dengan Iran. Ironisnya, kedua negara tersebut merupakan peserta Piala Dunia 2026. Iran bahkan dijadwalkan bertanding di AS sejak fase grup. Belum lagi Denmark, yang jika lolos play-off, akan membawa bara isu Greenland ke rumput hijau AS.
Bagi Trump, ajang olahraga sebesar Piala Dunia sering kali menjadi instrumen show of force dan citra kekuasaan. Apalagi, Juni-Juli 2026 adalah masa kritis menjelang Pemilu Sela November 2026 yang akan menentukan nasib pemerintahannya.
Isu Imigrasi dan Ancaman ‘Tuan Rumah yang tak Ramah’
Kekhawatiran terbesar para suporter mancanegara justru datang dari kebijakan domestik AS. Kebijakan imigrasi super-keras yang dijalankan Immigration and Customs Enforcement (ICE) memicu kecemasan global. Tindakan ICE yang dianggap represif –bahkan terhadap warga sipil dan penyandang disabilitas seperti kasus Aliya Rahman yang viral– membuat calon penonton ragu untuk menginjakkan kaki di AS.
Para aktivis HAM di AS pun sudah menyuarakan kekhawatiran atas kabar pengerahan petugas imigrasi ke venue-venue pertandingan. Dengan 78 dari 104 laga digelar di AS –termasuk perempat final hingga final– risiko munculnya atmosfer yang tidak inklusif bagi pendatang sangatlah nyata.
Garis Merah FIFA
FIFA sendiri telah memasang ‘garis merah’ terkait profesionalitas penyelenggaraan. Namun, menjaga marwah sepak bola di tengah kebijakan imigrasi yang ketat dan suhu politik yang tinggi adalah tantangan luar biasa.
Piala Dunia 2026 yang pertama kali diikuti 48 tim ini sejatinya membawa pesan inklusivitas. Akankah spirit olahraga ini menang melawan ego politik, atau justru tenggelam dalam drama kontroversi sang tuan rumah? Semua mata tertuju pada kick-off 11 Juni nanti.













