Banjir yang mengepung sejumlah lumbung pangan di awal tahun 2026 bukan sekadar urusan genangan air, melainkan ancaman nyata bagi urusan perut rakyat. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk segera memperkuat rantai distribusi demi meredam gejolak harga pangan yang mulai merangkak naik.
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menegaskan bahwa gangguan pada sisi produksi dan distribusi akibat cuaca ekstrem harus segera diantisipasi secara terukur.
“Untuk menjaga stabilitas harga pangan, ada dua hal utama yang harus dijaga, yaitu dari sisi supply (pasokan) dan demand (permintaan),” ujar Esther di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Sawah Terendam, Musim Tanam Terancam
Potret buram terlihat di lapangan. Data Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mencatat 5.168,9 hektare areal persawahan terdampak banjir, termasuk ratusan hektare lahan persemaian. Kondisi serupa menghantui wilayah Jawa Barat dan Banten yang menjadi penyangga stok nasional.
Kondisi ini menjadi alarm merah lantaran terjadi menjelang momen krusial: perayaan Imlek serta masuknya bulan Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Secara historis, periode ini selalu diikuti lonjakan permintaan bahan pokok.
Subsidi Distribusi Jadi Kunci
Esther menyoroti tingginya biaya logistik di Indonesia yang kerap mencekik harga di tingkat konsumen. Saat distribusi terhambat bencana, biaya ini melonjak berkali-kali lipat.
“Subsidi distribusi bisa menjadi instrumen untuk mengendalikan harga pangan. Namun, pengawasan harus ketat agar tidak ada penyimpangan di lapangan,” tegas Esther.
Selain distribusi, ia menekankan pentingnya dukungan konkret bagi petani, mulai dari sekolah lapang hingga penambahan 4.000 tenaga penyuluh yang saat ini masih kurang. Pemerintah juga diminta mengomunikasikan stok pangan secara transparan agar masyarakat tidak terjebak aksi borong atau panic buying.
Harga Beras Mulai ‘Goyang’
Lampu kuning mulai menyala di Panel Harga Badan Pangan Nasional. Per Senin (2/2/2026), harga beras medium tercatat naik menjadi Rp12.903 per kg, sementara beras premium bertengger di level Rp14.304 per kg.
Komoditas hortikultura pun mulai pedas. Harga cabai rawit merah melonjak 2,66 persen menjadi Rp41.601 per kg. Ironisnya, di sisi hulu, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani justru terkoreksi tipis menjadi Rp6.790 per kg.
Klaim Kementan: Stok Aman
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencoba menenangkan pasar. Ia memastikan stok pangan strategis nasional masih dalam kondisi aman terkendali.
Hingga 30 Januari, stok beras nasional diklaim mencapai 3,3 juta ton. Pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas harga meski tantangan iklim dan kenaikan kebutuhan masyarakat membayangi di depan mata.











