Jumlah investor berusia di bawah 30 tahun di pasar modal Indonesia mencapai 54,96 persen dengan total aset senilai Rp50,75 triliun per 9 Agustus 2024. (Foto: Inilah.com/Didik Setiawan)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Hari pertama perdagangan di lantai bursa, Jumat (2/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,17 persen, ke level 8.748,13. Ini pertanda baik di mata pelaku pasar.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed menilai, lonjakan IHSG di perdagangan awal tahun ini, merupakan sinyal kuat akan kepercayaan investor.
“Sinyalnya sangat jelas di perdagangan pertama 2026, IHSG melonjak 1,17 persen ke level 8.748,13. Bisa jadi ini pertanda tahun ini, tahun terobosan,” kata Shan di Jakarta, dikutip Minggu (4/1/2026).
Fenomena ini, kata dia, memperkuat keyakinan bahwa Indonesia memasuki tahun anyar yang memiliki fondasi fundamental yang cukup solid di tengah membaiknya sentimen global. Meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko. “Prospek pasar saham Indonesia ke depan dinilai semakin menarik,” imbuhnya.
Konsensus saat ini, dia memperkirakan, potensi kenaikan pasar sebesar 8-10 persen sepanjang 2026. Hal itu, ditopang permintaan domestik yang tangguh dan meningkatnya kepercayaan investor. “Bagi investor global yang selektif, Indonesia semakin menjadi pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi,” kata Shan.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro berpandangan senada. Penguatan IHSG di hari pertama perdagangan, seiring kenaikan luas bursa saham Asia, didorong aksi beli kembali (buyback) saham oleh investor, setelah profit taking di akhir 2025.
Andry juga menyoroti kondisi makro domestik yang tetap terjaga hingga pergantian tahun. Hal ini menambah kepercayaan dari pelaku pasar. “PMI manufaktur Indonesia memang melandai ke 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama,” ujarnya.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan arus masuk bersih Rp1,1 triliun ke pasar saham. Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami penurunan 6,05 persen. “Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia,” terang Andry.
Menurut dia, dengan kombinasi penguatan pasar saham, masuknya dana asing, serta penurunan imbal hasil (yield) obligasi, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang kuat.
Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif, menurut Andry, membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Jadi, bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan fase penguatan yang lebih berkelanjutan













