Tahun 2025 menjadi periode yang menguras emosi bagi perekonomian Indonesia. Di tengah ketidakpastian global yang mencekik, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak bak roller coaster. Mata uang Garuda bahkan sempat tersungkur hingga menembus level psikologis di atas Rp17.000 per dolar AS, sebuah rekor terburuk sepanjang sejarah yang melampaui krisis 1998.
Momen paling dramatis terjadi saat masyarakat Indonesia tengah menikmati libur panjang Lebaran pada April lalu. Dalam senyap, rupiah “babak belur” di pasar luar negeri.
Mimpi Buruk di Tengah Ketupat Lebaran
Saat pasar domestik tutup, pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di pusat keuangan global seperti Singapura dan New York memberikan sinyal bahaya. Pada Minggu (6/4/2025), rupiah di pasar NDF sudah menyentuh Rp17.059 per dolar AS.
Puncaknya terjadi sehari kemudian, Senin (7/4/2025), di mana rupiah terperosok ke titik nadir di level Rp17.261 per dolar AS. Angka ini jauh lebih lemah dibandingkan penutupan pasar reguler sebelum libur di angka Rp16.555.
Pasar NDF, yang kerap menjadi acuan psikologis pasar spot, terbukti benar. Begitu pasar domestik dibuka kembali pada Selasa (8/4/2025), rupiah langsung ambruk 1,78 persen di pembukaan dan ditutup melemah di Rp16.860 per dolar AS.
Biang Kerok: Tarif Dagang Donald Trump
Apa pemicu utama kejatuhan ini? Jawabannya mengarah ke Gedung Putih. Keputusan Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif resiprokal perdagangan yang agresif menjadi hantaman keras bagi mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Kebijakan proteksionisme Trump menempatkan Indonesia pada posisi sulit. Defisit perdagangan AS membuat produk Indonesia terkena tarif balasan sebesar 32 persen. Sentimen ini memicu kepanikan investor asing yang beramai-ramai menarik modalnya (capital outflow) dari pasar keuangan tanah air.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengakui bahwa realitas 2025 melenceng jauh dari proyeksi awal. Dalam Anggaran Tahunan BI, rupiah dipatok rata-rata Rp15.285, namun kenyataan di lapangan memaksanya berjibaku menahan kurs agar tidak liar di atas Rp17.000.
“Kami tidak menduga pada 2 April ada kebijakan tarif yang sangat tinggi. Rupiah di offshore bahkan sudah Rp17.000, sehingga kami harus melakukan intervensi dalam jumlah besar,” ungkap Perry di hadapan Komisi XI DPR, November lalu.
Kuras Cadangan Devisa Demi Stabilitas
Demi menyelamatkan wajah rupiah, BI terpaksa merogoh kocek dalam-dalam. Cadangan devisa yang pada Maret 2025 masih gagah di angka US$157 miliar, tergerus hingga tersisa US$149 miliar pada akhir September 2025.
Intervensi jumbo di pasar spot, NDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan secara masif. Beruntung, strategi ini membuahkan hasil. Memasuki November, cadangan devisa mulai pulih ke kisaran US$150,1 miliar, menandakan badai mulai mereda.
Tutup Tahun yang Masih Menantang
Menjelang tutup tahun, rupiah memang berhasil keluar dari zona kritis Rp17.000, namun belum sepenuhnya aman. Pada penutupan perdagangan Rabu (24/12/2025), rupiah bertengger di level Rp16.750 per dolar AS.
Kini, fokus pasar tertuju pada rilis data PDB Amerika Serikat kuartal III dan sinyal pemangkasan suku bunga oleh The Fed di tahun depan.
Meski BI mengklaim kondisi rupiah relatif stabil di penghujung tahun, kewaspadaan tetap menjadi harga mati mengingat ekonomi global masih dibayangi risiko resesi akibat perang tarif yang belum usai.













