Pelatih kepala Timnas Indonesia U-22 Indra Syafri memberikan instruksi kepada pemainnya pada pertandingan babak penyisihan Grup C Sepak Bola SEA Games 2025 di The 700th Anniversary of Chiang Mai Stadium, Chiang Mai, Thailand, Senin (8/12/2025). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
PSSI resmi mengambil langkah tegas pasca-kegagalan Timnas Indonesia U-23 di ajang SEA Games 2025. Induk sepak bola nasional itu mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan pelatih Indra Sjafri.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (16/12). Keputusan ini diambil setelah federasi melakukan evaluasi menyeluruh atas performa buruk Garuda Muda.
“Kami sepakat melakukan evaluasi. Yang pertama adalah pengakhiran—saya ulangi lagi—pengakhiran hubungan kerja antara coach Indra Sjafri dengan PSSI,” tegas Sumardji.
“Berkaitan dengan pengakhiran hubungan kerja, tentu hak dan kewajiban sesuai dengan kesepakatan kontrak yang ada, wajib untuk sama-sama dijalankan,” tambahnya.
Gagal Lolos Grup
Keputusan “cerai” ini tak lepas dari hasil minor yang didapat Indonesia di Thailand. Berstatus sebagai juara bertahan dan menargetkan back-to-back emas, Ivar Jenner dan kawan-kawan justru gagal lolos dari babak penyisihan grup.
Petaka bermula saat Indonesia kalah mengejutkan 0-1 dari Filipina pada laga pembuka. Meski kemudian menang 3-1 atas Myanmar di laga kedua, hasil tersebut tidak cukup untuk mengantarkan Indonesia ke semifinal.
Persiapan Panjang yang Sia-sia
Kegagalan ini terasa semakin pahit mengingat persiapan tim terbilang sangat panjang, bahkan sudah dimulai sejak Desember tahun lalu.
Sebelum ditangani Indra Sjafri, skuad ini sempat dipoles oleh pelatih asal Belanda, Gerald Vanenburg. Di bawah Vanenburg, Timnas U-23 menjadi runner-up Piala AFF U-23 2025, namun gagal meraih tiket ke putaran final Piala Asia U-23 2026.
Vanenburg kemudian digantikan oleh Indra Sjafri khusus untuk misi SEA Games 2025. Empat laga uji coba internasional pun telah dilakoni sebagai persiapan. Namun, segala upaya tersebut gagal membuahkan hasil manis, memaksa PSSI untuk merombak total kursi kepelatihan.














