PT PLN Enjiniring (PLNE) merombak total pendekatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaannya. Kini, program sosial tak lagi diposisikan sebagai sekadar kegiatan amal (charity), melainkan strategi krusial yang terintegrasi langsung dengan bisnis dan agenda transisi energi nasional.
Komitmen berani ini dipaparkan langsung oleh Direktur Utama PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, di hadapan dewan juri TOP CSR Awards 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
“Misi utama kami adalah memastikan kesiapan engineering untuk seluruh proyek infrastruktur ketenagalistrikan. Oleh karena itu, CSR tidak lagi berdiri sendiri. Kami harus selaras dengan arahan pemerintah dan PLN sebagai holding untuk mendukung transformasi menuju energi yang lebih bersih,” tegas Chairani.
Cetak SDM Transisi Energi
Seiring dengan tuntutan peralihan dari energi fosil ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT), PLNE telah meluncurkan konsep 6G Transformation (Groom Talent and Culture, Grow Core, Gain New, Guard Value, Go Digital, dan Global Partnership) yang ditargetkan rampung pada 2030.
Menariknya, transformasi bisnis ini langsung mengubah arah jarum CSR perusahaan. Jika sebelumnya PLNE sangat berat pada program penghijauan murni, kini fokusnya diperluas ke sektor pendidikan dan pengembangan kapasitas manusia.
“Sekarang kami masuk pada fase pembangunan budaya dan pengembangan manusia. Pendidikan menjadi strategis untuk menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan teknologi EBT di masa depan,” jelas Chairani.
Strategi ini dieksekusi melalui dua program unggulan: Engineer Mengajar dan PLNE Pintar. Sepanjang 2025, program Engineer Mengajar telah menerjunkan ahli-ahli PLNE ke empat perguruan tinggi untuk membagikan ilmu praktis seputar proyek dan inovasi energi kepada sekitar 400 mahasiswa. Sementara itu, PLNE Pintar berfokus pada peningkatan fasilitas pendidikan dan skill masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan. Sepanjang 2024-2025, PLNE mengalokasikan dana Rp810 juta untuk inisiatif ini.

Tata Kelola ESG yang Ketat dan Terukur
Sekretaris Perusahaan PLN Enjiniring, Anita Widyiastuti, menambahkan bahwa manajemen risiko dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini memegang kendali penuh. Perusahaan bahkan menerapkan ESG budget tagging untuk melacak secara presisi alokasi dana operasional yang berdampak pada keberlanjutan.
Tidak sekadar klaim, PLNE mengukur ketat setiap rupiah yang dikeluarkan menggunakan metode Social Return on Investment (SROI). Berikut adalah hasil pengukuran independen terhadap program CSR PLNE:
Fasilitas Pendidikan SDN 1 Karendan & SMP YP Bangkanai: Nilai SROI 5,8 (Setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan manfaat sosial Rp5,8).
Bank Sampah KAPPSA, Desa Cimekar: Nilai SROI 3,27.
Penanaman Pohon di Kelurahan Krukut: Nilai SROI 2,53.
Coastal Clean Up di Pantai Tanjung Pasir: Nilai SROI 2,26.
Kesetaraan Gender dalam Pengambilan Keputusan
Praktik ESG PLNE juga tercermin kuat dari sisi tata kelola internal. Chairani mengungkapkan, saat ini komposisi kepemimpinan perempuan di PLN Enjiniring telah mencapai 45 persen.
“Ini bukan sekadar untuk memenuhi kuota representasi. Kolaborasi perspektif antara pemimpin laki-laki dan perempuan terbukti memperkuat kualitas pengambilan keputusan strategis di perusahaan,” pungkasnya.
Berkat transformasi menyeluruh ini, PLNE sebelumnya sukses memborong penghargaan TOP CSR Awards 2025 #Star 4, TOP Leader on CSR Commitment 2025, dan Best TJSL & CSR Award in Environmental Category, serta kembali menjadi kandidat kuat pemenang di ajang TOP CSR Awards 2026.













