Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA semakin tertekan setelah UEFA secara terbuka menyatakan bahwa pemimpin sepak bola dunia itu telah kehilangan kepercayaan menyusul gagalnya rencana penjualan sebagian saham perusahaan pengelola Piala Dunia kepada investor swasta.
Pernyataan keras tersebut muncul sehari setelah Infantino resmi membatalkan proyek pembentukan perusahaan senilai US$20 miliar atau sekitar Rp358,85 triliun (kurs Rp17.942,45 per dolar AS) yang sedianya akan mengelola hak komersial Piala Dunia.
UEFA menyebut langkah FIFA dalam menggulirkan proyek tersebut dilakukan secara tertutup tanpa konsultasi memadai dengan konfederasi maupun asosiasi anggota.
“Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga besar sepak bola lainnya,” demikian bunyi pernyataan resmi UEFA.
UEFA Ancam Boikot Kompetisi FIFA
Penolakan terhadap proyek tersebut berkembang sangat cepat dalam sepekan terakhir.
UEFA bahkan sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana itu tetap dijalankan.
Gelombang penolakan kemudian diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Melihat mayoritas konfederasi menolak, Infantino akhirnya memutuskan menarik proposal tersebut.
Meski menyambut baik pembatalan itu, UEFA menilai persoalan belum selesai.
“Kita tidak bisa terus berjalan dengan skema rahasia yang disusun secara tergesa-gesa oleh pihak-pihak yang tidak jelas dan manfaatnya bagi sepak bola pun dipertanyakan,” tulis UEFA.
Organisasi pimpinan Aleksander Čeferin itu juga meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola FIFA agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Concacaf Ikut Mendesak Pertanggungjawaban
Kritik keras juga datang dari Concacaf.
Dalam pernyataan resminya, konfederasi yang dipimpin Victor Montagliani menilai proposal tersebut mencerminkan kepemimpinan yang mulai mengabaikan kepentingan sepak bola.
“Proposal sebesar ini tidak mungkin muncul secara kebetulan. Ini merupakan gejala kepemimpinan yang berhenti menempatkan sepak bola sebagai prioritas utama,” tulis Concacaf.
Mereka menegaskan para pemimpin FIFA memiliki kewajiban melayani kepentingan sepak bola, bukan memperbesar kekuasaan.
Karena itu, Concacaf meminta adanya proses evaluasi terhadap kepemimpinan FIFA.
Rencana Jual Piala Dunia Ditolak
Infantino sebelumnya mengusulkan pembentukan anak perusahaan baru yang akan mengelola seluruh aset komersial FIFA, termasuk Piala Dunia pria, Piala Dunia wanita, serta Piala Dunia Antarklub.
Perusahaan tersebut memiliki valuasi sekitar US$20 miliar, dengan sekitar 20 persen saham akan dilepas kepada investor swasta.
Investor utama yang disebut-sebut siap masuk adalah perusahaan investasi asal New York yang didirikan Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Infantino beralasan proyek tersebut akan meningkatkan dana pengembangan sepak bola global dan menjanjikan tambahan pendanaan hingga US$20 juta bagi asosiasi yang mendukung proposal tersebut sebelum tenggat waktu September mendatang.
Namun, mayoritas konfederasi menilai rencana itu berpotensi mengubah struktur kepemilikan aset paling berharga milik FIFA tanpa pembahasan yang transparan.
Pemberontakan dari Internal FIFA
Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari luar organisasi.
Penasihat senior FIFA Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri setelah proposal tersebut menuai penolakan luas.
Tak lama berselang, Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour juga mengeluarkan pernyataan yang mengkritik proses penyusunan proyek tersebut.
Menurut Lamour, banyak staf FIFA tidak mengetahui detail rencana itu hingga diumumkan kepada publik.
“Ini adalah proyek satu orang. Sudah waktunya para pemimpin politik sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.
Masa Depan Infantino Dipertanyakan
Kegagalan proposal tersebut memunculkan spekulasi mengenai masa depan Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Sejumlah nama mulai dikaitkan sebagai calon penantang, termasuk Presiden Concacaf Victor Montagliani. Sementara Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi yang sempat disebut mendapat dukungan dari UEFA dikabarkan belum berminat maju.
Meski menghadapi tekanan besar, Infantino menegaskan tidak berniat mundur.
Ia mengakui proposal tersebut telah memicu perpecahan di lingkungan sepak bola internasional, namun berharap seluruh konfederasi dapat kembali duduk bersama dalam beberapa pekan ke depan.
“Saya ingin menyatukan kembali semua pihak demi kepentingan bersama, yaitu terus mengembangkan sepak bola di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara yang paling membutuhkan dukungan,” kata Infantino.













