Suntikan Rp23,7 Triliun Belum Cukup, Pengamat UI: Garuda Masih Terjepit ‘Dosa’ Masa Lalu

Diana Medium.jpeg

Jumat, 20 Maret 2026 – 14:39 WIB

Pengamat UI menyebut Garuda Indonesia masih terjepit utang dan masalah armada meski sudah disuntik Rp23,7 triliun. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Pengamat UI menyebut Garuda Indonesia masih terjepit utang dan masalah armada meski sudah disuntik Rp23,7 triliun. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Meski telah mendapatkan ‘napas buatan’ berupa suntikan modal jumbo, maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tampaknya belum benar-benar bisa terbang tinggi. Masalah kronis yang menjerat emiten penerbangan ini dinilai sangat kompleks, mulai dari faktor eksternal yang tak terkendali hingga karut-marut pengelolaan internal.

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, memetakan dua variabel utama yang membuat Garuda terus mencatatkan rapor merah. Secara eksternal, lonjakan harga avtur dunia dan perkasa-nya nilai tukar Dolar AS (USD) terhadap Rupiah menjadi pukulan telak. 

Pasalnya, pendapatan domestik Garuda berbasis Rupiah, sementara biaya operasional vital mereka sangat bergantung pada valuta asing.

Namun, Toto menekankan bahwa persoalan internal jauh lebih krusial karena bersifat controllable atau seharusnya bisa dikendalikan oleh manajemen.

“Ada masalah utilisasi fleet (armada) yang tidak optimal. Masih banyak pesawat yang grounded akibat kendala maintenance. Selain itu, pendapatan dari sektor kargo belum maksimal, ditambah lagi beban bunga dan cicilan utang yang sangat tinggi sehingga mencekik likuiditas perusahaan,” tegas Toto saat dihubungi Inilah.com di Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Strategi Penyelamatan: Butuh Suntikan Modal Segar

Untuk keluar dari lubang jarum, Toto menyarankan manajemen Garuda segera mencari investor strategis yang mampu menyetor fresh equity atau modal baru. Hal ini dianggap krusial demi memperbaiki arus kas (cash flow) yang terus tertekan.

“Manajemen juga harus disiplin menjalankan semua program restrukturisasi yang sudah disepakati dengan para kreditur,” tambahnya.

Sekadar catatan, pada pengujung 2025 lalu, Garuda telah menerima ‘napas buatan’ berupa suntikan modal senilai Rp23,7 triliun (sekitar US$1,4 miliar) dari Danantara. 

Namun, kucuran dana ini ternyata masih di bawah target awal sebesar US$1,8 miliar, sehingga memaksa maskapai pelat merah tersebut membatalkan rencana ekspansi armadanya.

Rapor Merah di Lantai Bursa

Kondisi finansial yang belum stabil ini terefleksi jelas di pasar modal. Pergerakan saham GIAA terpantau sangat fluktuatif. Meski sempat memberikan harapan dengan melonjak 9,38 persen ke level Rp70 per lembar pada Selasa (17/3/2026), performa tahunan GIAA masih memprihatinkan.

Secara year-to-date (YTD), saham maskapai kebanggaan Indonesia ini masih terkoreksi lebih dari 28 persen. Saat ini, kendali penuh berada di tangan pemerintah melalui Danantara dengan kepemilikan saham mencapai 91,11 persen.

Kini, bola panas ada di tangan manajemen. Publik menunggu langkah berani dan realistis untuk menyelamatkan Garuda. Apakah transformasi ini akan membawa Garuda kembali merajai angkasa, atau justru kembali terhempas oleh beban masa lalu yang tak kunjung usai?

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang