Stadion Kosong Melompong: Cara Gila Fans Lazio Melawan ‘Diktator’ Presiden Sendiri

Pada 16 Agustus 2026, Lazio tersingkir dari Coppa Italia setelah kalah 0-2 dari klub Serie B, Mantova, di kandang sendiri.

Angka kehadiran malam itu menceritakan lebih banyak daripada skornya. Stadio Olimpico hanya diisi 5.528 penonton — dan lebih dari 2.000 di antaranya adalah pendukung Mantova yang datang dari luar kota.

Artinya, suporter tuan rumah yang hadir bahkan tidak mencapai 3.500 orang di stadion berkapasitas lebih dari 70 ribu. Sebagian dari mereka yang duduk di tribun tuan rumah pun diketahui merupakan pendukung Roma yang datang untuk merekam konten mengolok-olok rival sekota.

Pemandangan itu bukan kebetulan. Ia hasil dari keputusan yang diambil bersama oleh puluhan ribu orang: tidak datang.

Kronologi Boikot

Aksi ini tidak muncul tiba-tiba.

Upaya boikot pertama yang berhasil terjadi saat Lazio menjamu Genoa pada 30 Januari 2026. Kehadiran penonton di Stadio Olimpico hanya sekitar 5.000 orang.

Dua pekan berselang, saat menghadapi Atalanta pada Hari Valentine, jumlahnya turun menjadi 3.400. Angka itu terus menyusut hingga sekitar 2.000 pada laga melawan Sassuolo.

Aksi berlanjut hingga akhir musim.

Pada Juli 2026, protes berpindah ke jalanan ibu kota Italia. Lebih dari 20 ribu suporter turun ke jalan dengan slogan Libera la Lazio — bebaskan Lazio.

Para pendukung menyebut keputusan mengosongkan stadion sebagai estremo atto d’amore, tindakan cinta yang ekstrem.

Akar Persoalan

Sasaran protes adalah Claudio Lotito, pemilik mayoritas Lazio sejak Juli 2004.

Selama 22 tahun kepemilikannya, klub meraih enam trofi. Namun hubungannya dengan basis pendukung tidak pernah terjalin baik, dan memburuk hingga titik yang kini disebut tanpa jalan kembali.

Jurnalis media Italia LA7, Raniero Altavilla, menyampaikan kepada Roar News bahwa protes ini mencapai titik tersebut karena menurutnya sang pemilik tidak pernah melakukan hal yang baik bagi Lazio. Ia menilai Lotito selalu berseberangan dengan suporter dan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan klub.

Tuduhan utama yang dilontarkan para pendukung adalah minimnya ambisi.

Pola yang sama disebut berulang pada musim 2015/2016, 2018/2019, 2020/2021, dan 2023/2024: penampilan kuat di satu musim, diikuti bursa transfer yang mengecewakan, lalu musim berikutnya yang jauh dari harapan.

Kasus Sarri

Contoh yang paling sering disebut adalah periode Maurizio Sarri.

Mantan pelatih Chelsea itu membawa Lazio finis di posisi kedua pada musim 2022/2023 — capaian tertinggi klub dalam 22 tahun sejak Scudetto 2000. Ia lantas mengajukan permintaan pemain spesifik untuk menjaga daya saing tim.

Lotito sendiri pada Mei 2024 mengonfirmasi bahwa Sarri sempat meminta Domenico Berardi dan Piotr Zielinski. Keduanya tidak pernah datang.

Sarri kemudian menyampaikan kekecewaannya dengan mengatakan bahwa ia meminta opsi A, tetapi diberi pilihan antara C dan D.

Frustrasi itu disebut menyebar ke ruang ganti, dan berujung pada pengunduran dirinya pada Maret 2024. Berbicara kepada DAZN pada April lalu, Sarri menyebut situasi Lazio saat ini menyedihkan dan tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Dimensi Politik

Protes ini juga merambah ranah politik, karena Lotito menjabat senator dari partai tengah-kanan Forza Italia sejak terpilih pada September 2022.

Sejumlah spanduk muncul di jalanan Roma dengan pesan yang mengancam tidak memberikan suara kepada koalisi tengah-kanan selama Lotito bertahan di Lazio.

Menurut Altavilla, tekanan itu mulai berdampak, dan ia menilai Lotito kini menjadi persoalan bagi partainya sendiri.

Sampai artikel ini disusun, Lotito belum memberikan tanggapan atas gelombang protes tersebut. Klub sebelumnya sempat mengeluarkan pernyataan yang mengkritik kelompok ultras karena dinilai memengaruhi keputusan suporter lain.

Kaitannya dengan Musim Ini

Latar tersebut membantu menjelaskan sejumlah persoalan yang membelit Lazio dalam beberapa pekan terakhir.

Pada awal Agustus, Lazio kehilangan sponsor jersey utama senilai 19 juta euro setelah otoritas Italia memblokir mitra komersial mereka. Klub kembali menjadi satu-satunya tim Serie A tanpa sponsor utama di seragam.

Pertengahan Agustus, transfer Davide Frattesi dari Inter Milan sempat ditolak Lega Serie A karena persoalan indeks likuiditas klub. Kesepakatan baru bisa berjalan setelah strukturnya dirombak, dari kewajiban pembelian menjadi sekadar opsi.

Pada 16 Agustus, Lazio tersingkir dari Coppa Italia di babak 64 besar setelah kalah 0-2 dari klub Serie B, Mantova, di kandang sendiri.

Pelatih Gennaro Gattuso menolak menjawab pertanyaan soal bursa transfer seusai laga tersebut. “Saya tidak ingin membicarakannya,” katanya. “Karena akan terlalu mudah untuk fokus pada apa yang kurang dari tim ini.”

Klub dengan Sejarah Panjang

Yang membuat situasi ini terasa getir adalah sejarah yang dimiliki klub tersebut.

Pada 27 Agustus 1999, Lazio mengalahkan Manchester United asuhan Alex Ferguson untuk merebut Piala Super Eropa. Pada musim yang sama, mereka menjuarai Serie A.

Basis pendukungnya pun dikenal loyal. Pada 5 Juli 1987, ketika Lazio berada di ambang degradasi ke Serie C, lebih dari 20 ribu suporter menempuh perjalanan untuk mendukung tim di laga play-off yang menentukan.