Samsung untuk pertama kalinya menghadirkan dua varian smartphone lipat bergaya book-style sekaligus, yakni Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra. Sekilas keduanya terlihat mirip karena sama-sama mengusung chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy, Android terbaru, hingga dukungan Galaxy AI.
Namun, dengan selisih harga yang mencapai Rp12,5 juta, pertanyaan besarnya adalah: apakah Galaxy Z Fold 8 Ultra benar-benar menawarkan peningkatan yang sepadan?
Di Indonesia, Samsung membuka pre-order hingga 13 Agustus 2026. Galaxy Z Fold 8 dibanderol mulai Rp19.999.000, sementara Galaxy Z Fold 8 Ultra dijual mulai Rp32.499.000 hingga Rp44.499.999 untuk varian RAM 16GB dan penyimpanan 1TB.
Perbedaan Terbesar Ada di Ukuran
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Samsung kini memisahkan karakter kedua perangkat.
Galaxy Z Fold 8 tampil lebih pendek namun lebih lebar. Layar cover 5,5 inci dengan rasio yang lebih proporsional membuat pengalaman mengetik dan menggunakan aplikasi sehari-hari terasa lebih nyaman.
Sementara Galaxy Z Fold 8 Ultra mempertahankan desain yang lebih tinggi dan ramping seperti seri Fold sebelumnya. Layar luarnya mencapai 6,5 inci, sedangkan layar utama membentang hingga 8 inci.
Pilihan desain ini menunjukkan Samsung mulai menyasar dua tipe pengguna berbeda. Fold 8 lebih cocok bagi pengguna yang menginginkan pengalaman smartphone biasa ketika perangkat dilipat, sedangkan Fold 8 Ultra menyasar mereka yang menginginkan perangkat mendekati tablet.
Performa Sama, Pengalaman Berbeda
Menariknya, kedua perangkat menggunakan chipset yang sama, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy.
Artinya, untuk aktivitas harian, multitasking, gaming, hingga pemrosesan AI, performa keduanya diperkirakan tidak akan terpaut jauh.
RAM, penyimpanan, sistem operasi, hingga fitur Galaxy AI juga hampir identik.
Ini berarti pengguna tidak membayar lebih mahal untuk mendapatkan prosesor yang lebih cepat, melainkan untuk peningkatan di sektor lain.
Kamera Jadi Pembeda Utama
Di sinilah Galaxy Z Fold 8 Ultra mulai menunjukkan kelasnya.
Model Ultra membawa kamera utama 200 MP, didukung kamera telefoto 10 MP dengan optical zoom 3x dan digital zoom hingga 30x.
Sebaliknya, Galaxy Z Fold 8 hanya mengandalkan kamera utama 50 MP tanpa lensa telefoto.
Bagi pengguna yang sering memotret atau membuat konten, perbedaan ini cukup signifikan.
Namun bagi pengguna yang lebih banyak menggunakan smartphone untuk produktivitas, multitasking, atau hiburan, kemampuan kamera Fold 8 reguler kemungkinan sudah lebih dari cukup.
Baterai Lebih Besar, Tapi Tidak Jauh Berbeda
Galaxy Z Fold 8 Ultra dibekali baterai 5.000 mAh, sedikit lebih besar dibanding Fold 8 yang memiliki kapasitas 4.800 mAh.
Meski demikian, keduanya sama-sama mendukung pengisian cepat 45W, wireless charging 20W, serta Wireless PowerShare.
Selisih kapasitas baterai hanya sekitar empat persen sehingga dalam penggunaan nyata kemungkinan tidak akan menghasilkan perbedaan yang terlalu besar.
Apakah Fold 8 Ultra Layak Dibeli?
Dengan tambahan biaya sekitar Rp12 jutaan, pengguna mendapatkan:
- layar yang lebih besar dan beresolusi lebih tinggi;
- desain yang lebih tipis;
- baterai sedikit lebih besar;
- kamera utama 200 MP;
- lensa telefoto dengan optical zoom.
Di luar itu, pengalaman penggunaan sehari-hari relatif serupa karena kedua perangkat memakai chipset, software, serta fitur AI yang sama.
Artinya, keputusan membeli Fold 8 Ultra sangat bergantung pada kebutuhan.
Jika prioritas utama adalah fotografi, layar yang lebih luas, dan pengalaman premium tanpa kompromi, Fold 8 Ultra memang menawarkan nilai tambah.
Namun jika fokus pada produktivitas, multitasking, dan menikmati ekosistem Galaxy Fold dengan harga yang lebih masuk akal, Galaxy Z Fold 8 justru menjadi pilihan yang lebih rasional.
Strategi Samsung tahun ini menunjukkan perusahaan tidak lagi hanya menjual smartphone lipat, tetapi mencoba membagi pasar premium ke dalam dua segmen: pengguna yang mengutamakan keseimbangan harga dan fitur, serta pengguna yang menginginkan spesifikasi terbaik tanpa terlalu mempertimbangkan biaya.













