Kak Seto Akhirnya Jawab Tudingan Abaikan Pengaduan Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

Haris Medium.jpeg

Jumat, 16 Januari 2026 – 15:44 WIB

Aktris Aurelie Moeremans. (Foto: IG/@aurelie)

Aktris Aurelie Moeremans. (Foto: IG/@aurelie)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, akhirnya buka suara usai disebut mengabaikan pengaduan yang pernah disampaikan Aurelie Moeremans pada 2010.

Nama Kak Seto, sapaan akrabnya, mencuat dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang mengisahkan pengalaman grooming dan kekerasan yang dialaminya. Dalam buku tersebut, Kak Seto disebut tidak menindaklanjuti aduan yang disampaikan Aurelie sekitar 16 tahun lalu.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Kak Seto menyampaikan pernyataan resmi terkait isu yang berkembang.

“Pernyataan ini kami sampaikan sebagai sikap resmi dan rujukan tunggal terkait isu yang tengah berkembang,” ujar Kak Seto dalam caption unggahannya, dikutip Jumat (16/1/2026).

Ia menegaskan, perlindungan anak selalu menjadi prioritas utama dan akan terus diperkuat melalui refleksi, pembelajaran, serta perbaikan berkelanjutan.

Dalam unggahan tersebut, Kak Seto juga mengaku mengikuti dinamika diskusi publik, termasuk penyebutan namanya dalam pusaran persoalan tersebut.

“Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat,” katanya.

Kak Seto menilai, praktik pendampingan anak serta pemahaman mengenai relasi kuasa, kerentanan remaja, dan dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

“Oleh karena itu, refleksi atas praktik masa lalu kami jadikan sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” tuturnya.

Dalam unggahan berlatar putih tersebut, Kak Seto secara tegas mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming.

Ia menekankan, anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, maupun ketimpangan kuasa.

“Kami menghormati keberanian siapa pun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki dan diperkuat,” katanya.

Terakhir, Kak Seto mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama. “Menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia, hari ini dan di masa depan. Salam hormat, Kak Seto,” tutupnya.