Gaduh Impor 105.000 Mobil Pikap, Bos Agrinas Bantah Abaikan Produsen Lokal dan Istimewakan India

Vonita Medium.jpeg

Kamis, 26 Februari 2026 – 20:26 WIB

Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (16/9/2025). (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh/aa).

Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (16/9/2025). (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh/aa).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Gaduh impor 105.000 mobil pikap dari India menyeret PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero/Agrinas). Apalagi nilai impornya cukup gede yakni Rp24,66 triliun. Muncul kecurigaan yang mengarah ke korupsi. Waduh.

Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota saat ini menjadi petinggi BUMN yang paling sibuk membantah berbagai tudingan miring terkait importasi mobil pikap dari negeri berjuluk ‘Sejuta Dewa’ itu.

Termasuk kabar yang menyebut Agrinas tidak mengutamakan pabrikan otomotif dalam negeri menjadi pemenang tender pengadaan kendaraan niaga untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih itu.

Dia bilang, telah memberikan kesempatan yang sama kepada sejumlah produsen otomotif nasional. “Kami sangat terbuka, kami juga melakukan kegiatan (proses penawaran pengadaan) ini secara transparan. Dan, semua produsen kami beri kesempatan yang sama,” kata Joao di kantor Agrinas, Jakarta, dikutip Kamis (26/2/2026).

Joao menjelaskan, sejumlah korporasi otomotif ternama telah dimintai kesanggupan untuk memproduksi massal mobil pikap. Namun, tidak ada satu pun yang mampu memenuhi kebutuhan Agrinas yang mencapai lebih dari 100 ribu unit untuk transportasi niaga Kopdes Merah Putih.

Berdasarkan dokumen yang dipaparkan Joao, terdapat 4 perusahaan otomotif hanya menyanggupi. Akan tetapi, kapasitas produksi truk dan kendaraan pikap 4×4 serta kendaraan niaga, tidak bisa lebih dari 45 ribu unit.

Ke-4 pabrikan itu adalah Mitsubishi melalui unit Fuso menyatakan hanya mampu memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark sebanyak 13.500 unit, Hino sebanyak 10 ribu unit, serta Astra Isuzu Canter sebanyak 900 unit.

“Mereka hanya mampu memproduksi inden unit per bulan. Artinya, kebutuhan kami tidak bisa mereka penuhi dong. Dan, harga yang ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dengan kompetitor yang kami akhirnya berkontrak,” jelasnya.

Joao pun menyatakan dalam setiap pertemuan bisnis dengan produsen, mulai dari Astra hingga Mitsubishi, pihaknya telah melakukan lobi termasuk terkait harga. Kendati demikian, pembahasan selalu menemui jalan buntu karena pertimbangan kalkulasi bisnis dari masing-masing perusahaan.

“Seharusnya, kami bisa diberikan harga khusus, sehingga kami bisa deal dengan mereka (industri lokal). Tapi sampai dengan hari terakhir, kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk diberikan harga khusus. Sehingga kami terpaksa impor dari luar. Khususnya India,” paparnya.

Untuk diketahui, Industri otomotif nasional kembali mendapat pukulan telak. Belum usai “luka” akibat invasi truk impor asal China yang menggerus pangsa pasar, kini pabrikan dan rantai pasok lokal harus menelan pil pahit dari kebijakan dalam negeri sendiri.

Asal tahu saja, Agrinas merupakan BUMN yang diberkan kepercayaan untuk proyek pengadaan 105.000 unit mobil niaga operasional Kopdes Merah Putih. Selanjutnya mereka putuskan untuk mengimpor secara utuh (CBU) sebanyak 105.000 unit kendaraan komersial dari India. Nilainya fantastis yakni Rp24,6 triliun.

Durian Runtuh untuk Pabrikan India

Mobil pikap Mahindra Scorpio yang digunakan sebagai kendaraan operasional Koperasi Desa Merah Putih di berbagai daerah. (Foto: Dok. PT Agrinas Pangan Nusantara)
Mobil pikap Mahindra Scorpio yang digunakan sebagai kendaraan operasional Koperasi Desa Merah Putih di berbagai daerah. (Foto: Dok. PT Agrinas Pangan Nusantara)

Dua pabrikan asal India dipastikan menjadi penerima ‘durian runtuh’ dari proyek raksasa pemerintah Indonesia di tahun ini. Siapa saja? 
1. Mahindra & Mahindra: Menyediakan 35.000 unit pikap 4×4 Scorpio.
2. Tata Motors: Menyuplai 35.000 unit pikap 4×4 Yodha dan 35.000 unit truk roda enam Ultra T.7.

Langkah importasi ini, memicu kontroversi dan ironi besar. Pasalnya, Indonesia memiliki sederet pabrikan otomotif yang tak kalah mumpuni dalam memproduksi kendaraan komersial sejenis.

Yakni, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Wuling, hingga DFSK. Saat ini, utilisasi pabrikan otomotif dalam negeri, tengah mengalami tekanan hebat akibat melemahnya daya beli masyarakat.