Black Bridge, salah satu toko kaset di kawasan Pasar Santa, Jakarta Selatan. (Dokumentasi: Inilah.com/ wahyu Praditya Purnama)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah dominasi platform streaming yang serba cepat dan praktis, rilisan musik fisik seperti kaset pita dan vinyl atau piringan hitam, justru kembali menemukan momentumnya.
Di sejumlah sudut Jakarta, dari Pasar Santa hingga Blok M, toko-toko musik lawas tetap bertahan, bahkan mengalami lonjakan minat dari kalangan anak muda.
Fenomena ini terlihat jelas di Black Bridge, salah satu toko kaset di kawasan Pasar Santa, Jakarta Selatan. Di dalam ruang yang dipenuhi deretan kaset dan CD lintas era, pengunjung dari berbagai usia datang silih berganti. Namun, yang menarik, mayoritas pembeli saat ini justru berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.
Abung, pengelola toko, mengatakan bisnis tersebut berawal dari hobi sang pemilik yang merupakan kolektor kaset. Seiring waktu, koleksi yang menumpuk membuka peluang usaha.
“Awalnya dari koleksi pribadi, lalu melihat ada pasar, akhirnya dijadikan bisnis,” tutur Abung kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (08/08/2026).
Menurut Abung, anak muda yang datang ke tokonya umumnya mencari kaset dengan genre indie pop, indie rock, hingga alternative. Pilihan tersebut banyak dipengaruhi tren di media sosial.
Sementara itu, pembeli dari kalangan lebih tua cenderung berburu kaset slow rock era 1980-an dan 1990-an yang lekat dengan kenangan masa lalu.
“Yang muda biasanya ikut tren, kalau yang lebih tua lebih ke nostalgia,” katanya.
Koleksi di Black Bridge pun cukup beragam, termasuk sejumlah rilisan lama dari band legendaris. Sebut saja album lama Pink Floyd bertajuk Wish You Were Here keluaran 1975 tersimpan di antara koleksi lain.

Mungkin bukan cetakan pertama, mungkin hanya rilisan ulang dari dekade berikutnya. Tapi bagi pengunjung yang menemukannya, nilai itu tidak berkurang.
Meski sebagian besar merupakan rilisan ulang dari akhir 1980-an hingga awal 2000-an, nilai historis dan pengalaman mendengarkan yang ditawarkan tetap menjadi daya tarik utama.
Tak jauh dari Black Bridge, Jajan Kaset Santa juga menjadi salah satu pusat perburuan musik analog. Toko yang berada di lantai atas blok AKS Pasar Santa ini tampil mencolok dengan mural warna-warni di bagian depan. Di dalamnya, berbagai rilisan musik tersedia, mulai dari kaset, CD, hingga vinyl.
Afi, penjaga toko, menyebut vinyl menjadi produk paling diminati saat ini.
“Banyak yang cari vinyl, terutama rilisan baru atau yang lagi tren seperti Billie Eilish dan City Pop Jepang,” ujarnya.
Selain pembeli lokal, toko ini juga kerap didatangi kolektor dari luar kota hingga mancanegara. Menariknya, banyak dari mereka justru memburu rilisan musik Indonesia.
“Orang luar suka cari vinyl lokal karena dianggap punya karakter yang berbeda,” kata Afi.

Harga rilisan fisik di toko ini bervariasi. Kaset dijual mulai Rp30 ribu hingga Rp80 ribu, sementara vinyl berkisar dari Rp100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kelangkaan dan kondisi barang. Salah satu yang menjadi incaran adalah album lawas Oslan Hussein yang dihargai sekitar Rp1 juta.
Menurut Afi, minat terhadap musik fisik tidak hanya soal mendengarkan lagu, tetapi juga soal kepemilikan.
“Banyak yang merasa kalau belum punya versi fisiknya, belum lengkap,” ujarnya.
Fenomena kebangkitan musik analog juga terlihat di sejumlah lokasi lain di Jakarta. Kawasan Blok M Square masih dikenal sebagai pusat toko kaset dengan belasan kios di area basement.
Di Taman Puring, koleksi kaset lawas tetap tersedia meski tidak seramai dulu. Sementara di Jembatan Item Jatinegara, kaset dijual dengan harga terjangkau mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.
Di kawasan Jalan Surabaya, Menteng, kaset pita bahkan menjadi bagian dari pasar barang antik yang terus diburu kolektor. Keberadaan berbagai titik ini menunjukkan bahwa pasar musik fisik masih memiliki ruang di tengah gempuran digitalisasi.
Meski industri musik terus bergerak ke arah digital, kaset dan vinyl menawarkan pengalaman yang berbeda. Mulai dari sensasi memegang rilisan fisik, membaca sampul album, hingga kualitas suara analog yang dianggap lebih hangat, menjadi alasan mengapa format ini tetap diminati.
Kebangkitan musik analog di kalangan anak muda sekaligus menandai perubahan cara menikmati musik. Bukan lagi sekadar soal kemudahan akses, tetapi juga tentang pengalaman dan kedekatan emosional.
Di tengah era streaming, kaset dan vinyl membuktikan diri bukan sekadar peninggalan masa lalu. Dari rak-rak usang, format ini justru kembali hidup sebagai tren baru yang menjembatani generasi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













