Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (kanan) menyimak pertanyaan dari seorang peserta Kuliah Umum di Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (4/6/2026).(Foto: Tangkapan layar YouTube).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membantah narasi film ‘Pesta Babi’ yang senantiasa menyudutkan proyek pengembangan pangan di Merauke, Papua Selatan. Bahkan proyek tersebut dituding merusak hutan.
Menurut dia, program ketahanan pangan berupa cetak sawah sejuta hektare yang masuk Program Strategis Nasional (PSN), dijalankan untuk meningkatkan produksi pangan nasional, serta kesejahteraan warga lokal.
Pernyataan itu disampaikan Mentan Amran saat menanggapi pertanyaan seorang peserta diskusi yang mengaku sempat terpengaruh film dokumenter ‘Pesta Babi’ garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jean Paju Dale.
Selanjutnya, dia mengaku sempat berpikir, proyek pangan di Papua hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Bahkan miris dengan hancurnya hutan di tanah Papua.
Dengan tenang, Mentan Amran menerangkan bahwa dirinya memimpin langsung program pengembangan lahan tersebut. Dijamin, tidak ada satu pun lahan yang digunakan untuk kepentingan pribadi.
“Saya yang pimpin. Jangan fitnah orang, saya yang pimpin. Ini 60.000 hektare, aku buka. Dan, tidak ada negara sejengkal, tidak ada pribadiku sejengkal,” kata Mentan Amran dalam sebuah video, dikutip Inilah.com Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, pengembangan lahan pertanian tidak hanya dilakukan di Merauke. Pemerintah juga menjalankan program serupa di sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan dengan luasan yang lebih besar.
Karena itu, Mentan Amran mempertanyakan, mengapa sorotan publik lebih tertuju kepada proyek di Merauke, dibandingkan proyek serupa di wilayah lain. “Di sana hanya 60.000 (hektare) aku buka dan itu untuk rakyat semua,” ujarnya menambahkan.
Dia menjelaskan, lahan yang dikembangkan di Merauke merupakan kawasan rawa yang sebelumnya tidak produktif. Melalui program optimalisasi lahan, pemerintah membangun infrastruktur pertanian dan memperbaiki tata kelola air sehingga lahan dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi.
Ia menyebut, program tersebut berhasil meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. “Dulu 3 ton produksinya, kini menjadi 7 ton. Dulu satu kali tanam, sekarang bisa tiga kali,” tegas Mentan Amran.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada petani lokal. Bantuan tersebut diberikan secara gratis, sesuai amanat Presiden Prabowo Subianto. “Traktornya aku kirim tiga kapal dan gratis. Itu perintah Bapak Presiden,” bebernya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran memutar sejumlah kesaksian atau testimoni para petani lokal selaku penerima manfaat program optimalisasi lahan. Salah seorang petani mengaku pendapatannya meningkat, karena lahan yang dikelolanya lebih produktif.
Mentan Amran mengatakan, peningkatan kesejahteraan petani, merupakan salah satu tujuan utama dari program pengembangan lahan pangan yang sedang dijalankan pemerintah.
Ia menegaskan, upaya memperluas areal tanam dan meningkatkan produksi pangan diperlukan untuk mendukung target swasembada pangan nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor beras.
“Kalau kita tidak swasembada, tiba-tiba kita butuh impor 7 juta ton, tiba-tiba negara lain tidak mau kirim, kelaparan satu juta orang,” jelas Mentan Amran.
Menurut dia, program pengembangan lahan di Merauke dan sejumlah daerah lain, merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan pangan nasional, di tengah tantangan krisis pangan global. “Itulah kita swasembada sehingga dunia akui kita,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









