Keputusan super mengejutkan datang dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Gelar juara Piala Afrika (AFCON) yang direngkuh susah payah oleh Senegal pada Januari lalu resmi dicabut. Sebagai gantinya, Maroko ditetapkan sebagai kampiun baru turnamen antarnegara Afrika tersebut.
Dewan Banding CAF pada Selasa (17/3/2026) memutuskan bahwa Senegal dinyatakan forfeit (mengundurkan diri/kalah WO). Kemenangan 1-0 Senegal di babak perpanjangan waktu pun dianulir, dan diubah menjadi kemenangan default 3-0 untuk tuan rumah Maroko.
Buntut Panjang Aksi “Ngambek” 15 Menit
Keputusan drastis ini berakar dari drama menegangkan di laga final yang digelar di Rabat pada 18 Januari lalu. Saat itu, ketegangan memuncak di stoppage time babak kedua.
Awalnya, gol keunggulan Senegal dianulir oleh wasit karena pelanggaran, meski tayangan ulang menunjukkan kontak yang sangat minim pada bek Maroko, Achraf Hakimi. Tak lama berselang, wasit justru memberikan hadiah penalti untuk Maroko.
Merasa dicurangi, para pemain Senegal yang dipimpin pelatih Pape Thiaw memutuskan untuk melakukan aksi protes dengan keluar dari lapangan (walk-out) selama 15 menit. Penonton bahkan nyaris turun ke lapangan akibat insiden tersebut.
Saat laga akhirnya dilanjutkan, kiper Edouard Mendy sukses menepis penalti Panenka dari bintang Maroko, Brahim Díaz. Senegal kemudian mencetak gol tunggal di babak perpanjangan waktu dan merayakan gelar juara. Sayangnya, perayaan itu kini tak lagi berarti.
Pada sidang disiplin awal, CAF hanya menjatuhkan denda lebih dari 1 juta Dolar AS dan sanksi larangan bermain, tanpa mengubah hasil laga. Namun, keputusan itu dibalik sepenuhnya pada tingkat banding.
Aturan CAF yang Menghukum Senegal
Dalam putusannya, CAF merujuk pada Pasal 82 peraturan turnamen. Pasal tersebut dengan tegas menyatakan:
“Jika, karena alasan apa pun, sebuah tim menarik diri dari kompetisi atau tidak melapor untuk pertandingan, atau menolak bermain atau meninggalkan lapangan sebelum akhir pertandingan reguler tanpa izin wasit, maka tim tersebut akan dianggap kalah dan dieliminasi selamanya dari kompetisi saat ini.”
Pemain Senegal Mengamuk, Tolak Kembalikan Trofi
Putusan ini memicu kemarahan skuad Singa Teranga. Bek Senegal, Moussa Niakhate, mengunggah foto dirinya memegang trofi AFCON di akun Instagram pribadinya dengan pesan bernada tantangan: “Datang dan ambil sendiri! Mereka gila!”
Rekan setimnya, El Hadji Malick Diouf, juga menyuarakan rasa frustrasinya lewat Instagram Story: “Ini bukan yang saya harapkan… barang ini (trofi) tidak akan ke mana-mana.”
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) menyambut baik putusan ini, menyatakan bahwa pendekatan mereka murni untuk menegakkan regulasi, bukan menantang performa olahraga tim lawan.
Gelar ini menjadi titel AFCON pertama bagi Maroko sejak 1976. Ironisnya, pelatih Maroko Walid Regragui baru saja mengundurkan diri dua pekan lalu karena mendapat kritik tajam akibat “kegagalan” menjuarai AFCON. Kini, Maroko akan berangkat ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat dengan status sebagai Juara Afrika.
Senegal dilaporkan masih memiliki opsi untuk membawa kasus rumit ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.













