Nevada Gold Mines, adalah tambang emas terbesar di dunia yang memproduksi 94.2 juta ton emas (Foto: miningfrontier)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Indonesia adalah negeri bergelimang mutu manikam, dianugerahi kekayaan alam yang tersimpan di perut bumi. Harus dikelola dengan sebaik-baiknya, jangan ugal-ugalan agar tak cepat habis. Dan harus dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat.
Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Nathaniel Adhynegara mengatakan, Indonesia memiliki nikel dan kobalt yang luar biasa besar nilainya.
Jika divaluasikan, nilainya setara US$750-US$800 miliar, jika mengacu kepada harga nikel dan kobalt di London Metal Exchange (LME). Angka itu berasal dari cadangan nikel sebanyak 52 juta ton, dan kobalt 1,2 juta ton.
“Ini kalau kita estimasi berdasarkan pasar LME saat ini, valuasinya untuk cadangan, untuk nikel 700 miliar dolar AS. Sedangkan kobalt sekitar 50 miliar dolar AS. Sehingga totalnya sekitar 800 miliar dolar AS,” kata Nathaniel di Jakarta, dikutip Minggu (30/8).
Angka tersebut, kata dia, merupakan cadangan yang artinya jumlah nikel dan kobalt yang ‘mineable’. Atau dipastikan sudah bisa ditambang.
“Kalau kita konversi ke rupiah, mungkin sekitar Rp15.000 triliun. Kalau enggak salah. Itu APBN untuk 5 tahun. Sangat penting bagi pemerintah untuk membahas masalah ini. Agar kita bisa optimalkan dari kekayaan alam itu,” ujarnya.
Terkait produk turunan nikel, saat ini, Indonesia sudah bisa menghasilkan nickel pig iron (NPI), baja, serta bahan baku baterai. Yakni, mixed hydroxide precipitate (MHP) dan mixed sulphide precipitate (MSP).
Ke depan, sektor hilirisasi nikel di Indonesia harus bisa lebih maju lagi. Produk barangnya lebih cenderung ke hilir lagi. “Ke depan, kita dorong bisa lebih hilir lagi, yaitu produk baterai, lithium, dan juga kendaraan listrik,” kata Nathaniel.
Dia memaparkan, pascakebijakan hilirisasi, jumlah smelter nikel berkembang pesat di Indonesia. Khususnya di Sulawesi. Saat ini, kapasitas smelter nikel di Indonesia, mencapai 1,8 juta ton.
Di sisi lain, nilai ekspor produk nikel Indonesia terus meningkat, bahkan hingga 12 kali lipat. Pada 2014 nilainya hanya US$3 miliar kemudian lompat menjadi US$37 miliar pada 2025. “Kenaikannya 12 kali, itu baru dari sisi nilai. Kalau volume meningkat lebih besar lagi, sampai 19 juta ton pada 2025,” ujar Nathaniel.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













